Sementara di barisan paling depan, sebuah perahu dengan tampilan lebih sederhana membawa dua tumpeng sebesar kepala kerbau. Nasi berwarna kuning tersebut lalu diarak menuju Teluk Teleng hingga jarak 500 meter dari bibir pantai.
Selepas dari pesisir, konvoi perahu yang membentuk formasi memanjang tersebut berputar-putar mengelilingi teluk. Selang setengah jam kemudian perahu pembawa tumpeng berhenti persis di tegah teluk untuk melarung benda berbentuk kerucut tersebut.
Tak ayal, pemandangan unik itu menyita perhatian para wisatawan yang datang. Bahkan tidak sedikit yang rela berjemur di bawah terik matahari senja lantaran menunggu momen langka tersebut.
"Ke Pacitan sih sering, tapi menyaksikan larungan baru saat ini," ujar Kevin, wisatawan asal Madiun kepada detiksurabaya.com, Minggu (28/12/2008).
Sementara sesepuh nelayan Pantai Tamperan Imam Haryono ditemui detiksurabaya.com mengatakan ritual ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah yang diterima nelayan selama ini.
Kedatangan bulan Muharram, kata Haryono, merupakan saat yang ditunggu-tunggu para nelayan. Pasalnya, moment pergantian tahun baru Islam tersebut diyakini merupakan saat yang sakral untuk mengadakan acara selamatan berupa tasyakuran dan tirakatan.
"Kami menyebutnya shodaqoh laut. Sebagian tumpengnya dimakan bersama oleh nelayan dan yang lainnya dilepas di laut," jelas dia.
Haryono menjelaskan untuk menyemarakkan kegiatan larungan kali ini panitia sekaligus menggelar lomba perahu hias. Puluhan perahu yang ikut mengiringi konvoi larungan mendapat penilaian untuk memperebutkan hadiah uang tunai.
Dia berharap, ke depan agenda tahunan yang merupakan inisiatif nelayan tradisional ini mendapat dukungan pemerintah daerah. Sehingga dapat dikemas menjadi kalender wisata tahunan yang mendatangkan banyak wisatawan. (fat/fat)











































