Beberapa pemuda desa memanfaatkannya dengan menarik karcis masuk bagi pengunjung yang masuk ke areal untuk melihat semburan itu.
"Kami sudah minta izin ke perangkat desa maupun polisi. Dan diizinkan kok," ujar Solikhin, salah satu pemuda Desa Sekar Kurung kepada detikurabaya.com, Minggu (28/12/2008).
Solikhin mengaku sejak lumpur menyembur dan warga membanjiri lokasi pada Jumat (26/12/2008) kemarin, baru kali ini para pemuda desa berinisiatif menarik karcis masuk.
Mereka langsung berinisiatif menarik karcis masuk lantaran semburan lumpur tak juga berhenti sehingga warga pun makin banyak saja yang mendatangi lokasi tersebut.
"Hasilnya masuk kas desa," tambah Solikhin.
Areal parkir yang dibuat para pemuda desa itu pun cukup sederhana. Bermodal tali rafia, mereka menutup areal untuk melihat semburan dengan mengikatkan tali rafia di sekelilingnya dan hanya menyisakan satu pintu masuk dan satu pintu keluar.
Di pintu masuk itulah para warga yang ingin melihat semburan lumpur ditarik karcis. Sekali masuk, warga harus merogoh kocek Rp 1.000. (iwd/fat)











































