"Jelas saja takut. Waktu mendengar pengeboran mengeluarkan lumpur," kata Sri warga Desa Sekar Purung saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Sabtu (27/12/2008).
Sri mengaku sampai saat ini belum ada pemberitahuaan secara resmi dari pihak PetroChina tentang adanya semburan lumpur tersebut. Bila kejadian Lapindo terjadi di desa mereka, pihaknya berharap ganti rugi yang diberikan tidak berbelit seperti yang dialami warga yang terendam lumpur di Porong, Sidoarjo.
"Kalaupun memang terjadi seperti Lapindo, ganti ruginya harus jelas," tuturnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Junaidi, warga Kawisanyar yang berjarak sekitar 1,5 Km dari lokasi. Dia mengatakan juga ketakutan dengan semburan tersebut. Karena letak desanya berada di bawah Desa Sekar Purung.
"Takutlah, biar rumah kita jaraknya cukup jauh," ungkapnya.
Dari pengamatan detiksurabaya.com di lokasi semburan, saat ini tinggi semburan lumpur sudah mengecil tinggal setinggi 10 cm. Dari tiga titik yang menyembur, saat ini tinggal satu yang masih mengeluarkan lumpur.
Sementara, puluhan warga masih memadati lokasi pengeboran untuk melihat secara langsung semburan lumpur dari dekat.
dua sudah tertutup. Semburan tersebut masih terus dikunjungi oleh warga yang ingin melihat dari dekat semburan tersebut. (wln/bdh)










































