Lokasi favorit para penjual terompet ini antara lain Taman Sritanjung, Alun-alun Blmabangan dan Jl Ahmad Yani. Namun lokasi yang menjadi rebutan adalah sekitar Taman Sritanjung yang letaknya di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Penyebabnya tempat ini merupakan salah satu lokasi yang paling banyak dikunjungi warga Banyuwangi khususnya muda-mudi.
Pantauan detikSurabaya.com, rata-rata para pedagang terompet tersebut adalah pedagang musiman. Mereka hanya memanfaatkan moment perayaan tahun baru ini untuk mengais rezeki lebih banyak. Sebagian besar dari pedagang terompet di Banyuwangi berasal dari Desa Ngaglik, kecamatan Bulukerto, Kecamatan Wonogiri, Jawa Tengah.
Penuturan salah seorang pedagang terompet, Budi Utomo (38), setiap tahun dirinya bersama teman-temannya satu desa selalu menjadi pedagang musiman sebagai penjual terompet untuk perayaan tahun baru. Sebab, hasil yang didapatkan dari berjualan terompet ini cukup menggiurkan. "Biasanya kami bisa meraup keuntungan hingga Rp 2 juta, itu sudah bersih dipotong modal, ongkos dan biaya hidup selama di sini," ungkap pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai sopir ini pada detikSurabaya.com, Kamis (25/12/2008).
Harga terompet yang dijual berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 20.000 tergantung dari model yang diinginkan pembeli. Terompet yang harganya diatas Rp 10.000 biasanya memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dalam pembuatannya. Selain itu, bahan dan coraknya juga lebih menarik dibanding dengan terompet yang dijual dengan harga di bawah Rp 10.000.
Jika sedang sepi, dalam sehari Budi utomo dan rekan-rekannya hanya mampu menjual sekitar 10 buah terompet. Namun jika sedang ramai bisa mencapai puluhan terompet. "Yang paling ramai pastinya pada malam tahun barunya," sela ayah dua anak ini di Taman Sritanjung, tempatnya berjualan.
Suami dari Parsiani ini mengaku penjualan akan turun drastis jika pada malam tahun baru turun hujan. Jika ini terjadi, maka dagangannya terancam tidak habis. Namun untuk mengatasi hal ini Dia dan rekan-rekannya sudah punya jurus jitu. "Kalau tidak habis kita ecerkan di pedagang mainan anak-anak," kata Udin, pemuda yang berjualan terompet tepat di sebelah Budi utomo.
Budi utomo dan sekitar 30 rekannya yang lain sudah mulau berjualan terompet sejak 19 Desember lalu. Biasanya mereka baru pulang ke tempat asalnya usai perayaan tahun baru tepatnya pada tanggal 1 Januari. (bdh/bdh)











































