Presiden tiba di lokasi peresmian pukul 15.35 WIB, Senin (15/12/2008) setelah melalui perjalanan darat dari Bandara Adisumarmo, Boyolali. Kedatangan SBY didampingi Ibu Negara Ani Bambang Yudoyono dan sejumlah menteri.
Mereka yakni Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Sejumlah sesepuh TNI juga tampak hadir di kursi undangan antara lain Try Sutrisno, R. Hartono dan mantan Kasad Subagyo HS.
"Mari kita mencontoh, meneladani kepemimpinan Pak Dirman. Seberat apapun, masalah itu. Boleh dikatakan mission impossible tetapi kalau kita bekerja keras untuk mengatasinya, kita bisa," tegas SBY saat menyampaikan sambutan dihadapan tam undangan.
Lebih lanjut presiden berpesan agar lokasi Monumen Panglima Besar Jendral Besar Soedirman dan rumah bekas markas gerilya Pak Dirman dijadikan kawasan wisata sejarah. Untuk itu, kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diharapkan mempererat kerjasama dengan pemerintah daerah guna menciptakan kreativitas baru demi makin sempurnanya bangunan tersebut.
"Kembangkan akses baik dari Jawa Timur maupun dari Jawa Tengah ke tempat ini. Dengan demikian akan menjadi satu rangkaian kawasan wisata baik dari Solo maupun Madiun," lanjut SBY.
Menurutnya, revitalisai Monumen Panglima Besar Jendral Besar Soedirman diharapkan berpengaruh terhadap peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat sekitar. Jika kawasan bersejarah tersebut makin hidup yang ditandai dengan banyaknya wisatawan yang datang tentu pendapatan masyarakat setempat juga akan bertambah.
Usai penekanan tombol tanda peresmian oleh SBY, kegiatan dilanjutkan penampilan fragmen kilas balik kehidupan Jendral Besar Soedirman. Adegan kolosal tersebut selain melibatkan unsur TNI juga melibatkan ratusan siswa sekolah dari Pacitan.
Sementara Monumen Panglima Besar Jendral Besar Soedirman dibangun di atas tanah seluas 97,831 meter persegi oleh Almarhum Roto Suwarno. Tokoh yang dikenal sebagai pengawal Pak Dirman selama bergerilya di Pacitan itu membangun monumen sejak tahun 1981 sampai dengan 1993.
Dalam perkembangannya, sejak Roto Suwarno wafat pengelolaan bangunan monumental itu dilakukan Yayasan Roto Suwarno yang sebagian besar pengurusnya merupakan putra-putri almarhum Roto Suwarno. (fat/fat)











































