"Memang belum dipastikan, apa demam chikungya atau bukan. Tapi kalau melihat gejala, memang mirip demam chikungya," kata petugas Puskesmas Jelak Ombo, Mei Hendro, kepada wartawan di sela-sela pengasapan anti nyamuk.
Menurut Mei, kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksa bak penampung air di musim hujan, semakin memperbesar potensi persebaran penyakit itu. "Seharusnya warga membiasakan memeriksa bak air," kata Mei.
Pengasapan anti nyamuk atau fogging tersebut, terutama dilakukan di RW I, Kelurahan Kaliwungu. Sebab saat ini masih banyak warga di lingkungan itu, yang terjangkit penyakit mirip demam chikungya tersebut.
"Semula saya dikira kena penyakit stroke. Sebab sulit berjalan dan tangan serta kaki kesemutan. Tapi setelah saya periksa ke puskesmas, ternyata gejala chikungya," kata Ernawati (34), salah seorang pengidap gejala demam chikungya.
Selain Erna, 3 anak dan kedua orangtuanya, juga terjangkit penyakit yang sama. Karena tangan dan kaki sulit digerakkan, Erna hanya bisa terbaring lemah di kamar tidur. "Sudah hampir sepekan ini saya ada di kamar," jelas Erna.
Selain Erna, setidaknya terdapat sekitar 50 warga di Kelurahan Kaliwungu, yang terjangkit penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti itu. Namun demikian, tidak ada warga yang menjalani rawat inap di Puskesmas akibat penyakit itu. (gik/gik)










































