Diduga Korban Trafficking, Dua Gadis Hilang Dua Tahun

Dijanjikan Kerja di Malaysia

Diduga Korban Trafficking, Dua Gadis Hilang Dua Tahun

- detikNews
Jumat, 12 Des 2008 13:35 WIB
Surabaya - Dua warga Pamekasan diduga menjadi korban trafficking. Kasus ini dilaporkan ke Polres Pamekasan, Jumat (12/12/2008). Dua korban itu yakni Maskiah (18) dan Hanifah (23). Keduanya berasal dari Desa Tlonto Ares, Kecamatan Waru, Pamekasan Utara.

Sang pelapor yakni Bunasih (37), ibu kandung Maskiah dan Man Tarip (50), ayah kandung Hanifah. Kedua pelapor itu, diantar Ketua Lembaga Nusantara Civil Sosiety Organization Bakorwil Madura, Noer Faisal.

"Kasusnya sendiri terjadi Agustus tahun 2006 lalu," kata Noer Faisal, saat ditemui di Ruang SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) Polres Pamekasan.

Menurut Bunasih, sebelum berangkat ke Malaysia, Maskiah didatangi Halik yang dikenal sebagai tekong asal Pakong, Pamekasan. "Saat tiba di rumah, Pak Halik tiba-tiba mengatakan jika Maskiah anak saya siap berangkat ke Malaysia," tutur Bunasih.

Seluruh dokumen Maskiah telah selesai diurus Halik. Biayanya ditanggung Halik dan akan dipotong gaji selama 14 bulan. Saat itu, Maskiah akan dipekerjakan di sebuah salon kecantikan.

"Ternyata, anak saya malah hilang. Dan selama dua tahun tidak ada kontak," kata Bunasih menahan tangis.

Kisah Maskiah, juga menimpa Hanifah. Anak bungsu pasangan Man Tarip dengan Heriyah itu menghilang tanpa kontak pada keluarganya. "Anak saya berangkat bersama Maskiah," jelas Man Tarip.

Celakanya, keberangkatan Maskiah dan Hanifah lantaran dikenalkan Misnati, yang tidak lain bibi Hanifah. Misnati adalah adik kandung Man Tarip.

Misnati orang pertama yang mengenalkan Maskiah dan Hanifah kepada Halik, sang tekong. "Malahan, Misnati berani menjamin keselamatan Maskiah dan Hanifah," tutur Bunasih.

Karena ada jaminan Misnati yang berpengalaman menjadi TKW di Malaysia, akhirnya Bunasih dan Man Tarip melepas Maskiah dan Hanifah bekerja di Malaysia.

Tapi sayang, berbulan-bulan menunggu kabar justru tak ada kontak sama sekali. Baik dari Hanifah maupun Maskiah. "Saya khawatir akan keselamatan jiwa anak saya," sambat Man Tarip.

Setelah lama tak ada kontak, akhirnya Bunasih dan Man Tarip mendatangi rumah Halik, sang tekong yang memberangkatkan Hanifah dan Maskiah. Celakanya, berkali-kali didatangi, Halik malah tidak pernah menampakkan batang hidungnya alias kabur.

Begitupula dengan Misnati yang berjanji akan menjamin keselamatan Hanifah dan Maskiah. "Belakangan diketahui Misnati dan Yanto, suaminya, kabur ke Malaysia," sambung Noer Faisal.

Ikhwal keberadaan Misnati dan Yanto di Malaysia, dibuktikan dengan panggilan ponsel kepada kerabat Bunasih. "Nomor telepon tercetak kode negara Malaysia. Misnati menelepon kerabatnya saat bulan puasa bulan lalu," lanjut Man Tarip.

Saat menelepon kerabatnya itu, Misnati sama sekali tidak mengabarkan tentang kondisi Maskiah dan Hanifah. Untuk menghilangkan jejak, Misnati sering mengganti nomor ponselnya. "Saat saya menelepon dengan nomor yang tertera di ponsel kerabatnya, ternyata nomor ponsel itu sudah tidak aktif lagi," kata Noer Faizal, kesal.

Merasa menjadi korban, akhirnya kasus trafficking itu dilaporkan ke Polres Pamekasan. Kasatreskrim Polres Pamekasan, AKP Muhamad Kholil masih mempelajari dan mendalami kasusnya. "Saat ini, kasusnya masih berstatus penyelidikan dan belum penyidikan. Yang pasti, kami akan menindaklanjuti kasus trafficking ini," janji Kholil. (fat/fat)
Berita Terkait