Salah seorang yang selalu menekuni profesi musiman ini adalah Sugeng (30) warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri. Dia bersama dua rekannya, Purwanto dan Sofyan tak pernah absen berburu rezeki tambahan dari penjualan kulit hewan kurban.
Untuk memaksimalkan jumlah kulit hewan kurban yang didapat, Sugeng dan rekannya sudah "bergerilya" sejak H-2 Idul Adha. Setiap tempat yang memotong hewan kurban mereka datangi. Ini dilakukan untuk membooking kulit hewan yang akan disembelih.
"Kalau pemilik hewan kurban mau, langsung kita bayar saat itu juga. Nantinya, saya tinggal mengambil saja," ujar ayah dua anak ini kepada detiksurabaya.com saat ditemui di dekat rumahnya Jalan Teratai saat membawa kulit, Senin (8/12/2008).
Sugeng menuturkan, jika dirinya tak langsung membayar kulit hewan kurban tersebut tak jarang pemilik hewan kurban yang sudah sepakat menjual kulit hewan kurban ke pemburu kulit lain. Karena mereka tergiur dengan penawaran harganya.
Perjuangan Sugeng dan kawan-kawan terus dilakukan hingga hari H pemotongan hewan kurban berlangsung. Demi mendapat rezeki tambahan ini, tanpa segan atau malu mereka bertanya pada setiap instansi atau individu yang memotong hewan kurban apakah kulit hewan yang mereka sembelih dijual.
Untuk setiap lembar kulit kambing, mereka membelinya dengan harga Rp
12.500 perlembar. Dari harga ini mereka menjualnya pada pengepul dengan harga Rp 20.000 perlembar kulit kambing. Sedangkan untuk kulit sapi, dihargai Rp 9.500 perkilo.
"Untuk kulit sapi biasanya kami membelinya dengan selisih harga antara Rp 1.000 hingga Rp 1.500 tiap kilo dari harga pengepul," ungkap Sugeng saat diamini rekannya.
Tahun ini mereka mengaku mendapatkan hasil yang sangat minim dibanding tahun sebelumnya. Penyebabnya, rata-rata para pemilik hewan kurban memberi kulit hewan yang mereka sembelih pada penjagalnya (pemotong hewan).
"Tahun-tahun sebelumnya biasanya kami bisa mendapat sampai 100 lembar kulit hewan. Kali ini kami hanya mendapat 20 lembar," keluh Purwanto yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja bangunan ini.
Meski begitu, Sugeng dan rekannya tak patah arang dan tetap akan menekuni profesi musiman ini pada tahun depan. Karena meski rezeki tambahan yang mereka dapatkan semakin berkurang, tapi bisa membantu menjaga asap dapur tetap mengepul. (fat/fat)











































