Dari pengakuan Tekad, dirinya mengetahui rekannya meninggal saat bus berada di atas kapal penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Perairan Selat Bali. Saat itu Tekad yang duduk bersebelahan dengan korban hendak membangunkan korban yang menurutnya sedang tidur.
"Saya bangunkan dia untuk menawari minum. Saat saya pegang tubuhnya ternyata sudah kaku," ujarnya saat di lokasi kejadian kepada wartawan.
Tekad pun memberitahukan awak bus perihal kematian rekannya. Karena posisi kapal sudah mendekati Pelabuhan Ketapang, awak bus memutuskan membawa korban dan melaporkan ke Pelabuhan Ketapang.
Selama perjalanan dari Terminal Ubung, Denpasar, kata Tekad, dirinya lebih banyak tidur. Sehingga dia tidak tahu persisi kapan Agus meninggal. Tentang kondisi Agus, Tekad menuturkan jika Agus pulang karena dalam kondisi sakit.
Namun dirinya tidak mengetahui secara pasti penyakit apa yang diderita korban. Ini karena selama ini korban menolak untuk memeriksakan diri ke dokter. "Biasanya kalau sedang sakit dia hanya beli obat di warung," bebernya.
Lain halnya dengan yang dikatakan Nanang, kondektur Bus Gunung Harta yang ditumpangi Tekad dan korban. Menurut Nanang, saat memberikan tiket di Terminal Ubung, Denpasar, menurutnya kondisi korban masih sehat walafiat.
"Saat bertemu saya di Terminal Ubung masih sehat, tahu-tahu saya dilapori kalau dia sudah meninggal," katanya.
Mayat korban pun dievakuasi ke kamar mayat RSUD Blambangan Jalan Letkol Istiklah oleh anggota Polsek KPPP untuk di visum. "Kita sudah menghubungi pihak keluarga," kata Briptu Sugiandono anggota Polsek KPPP yang mengantar mayat korban ke RSUD Blambangan. (fat/fat)











































