3 Truk pupuk Kaltim yang mengangkut pupuk dari arah Surabaya menuju kota Sumenep disandera, tepatnya di Desa Aengdake, Jumat (5/12/2008) dini hari.
Para petani jagung dan padi menghadang truk yang akan melintas di jalan. Lalu, menggeledah dan memaksa sopirnya untuk turun. Setelah mendapat kepastian jika pupuk tersebut jatah untuk warga Sumenep, secara beramai-ramai mereka menurunkan pupuk dari truk di pinggir jalan.
Akibat aksi penyanderaan truk pupuk itu, arus lalu lintas Sumenep-Surabaya terganggu.
Pantauan detiksurabaya.com, pupuk yang diturunkan dari 3 truk tersebut dijaga ketat oleh petugas gabungan polres setempat. Pengamanan dimaksudkan untuk menghindari aksi penjarahan. Namun, polisi tidak dapat berbuat banyak dalam aksi tersebut, selain kekuatan yang iturunkan lebih kecil dari jumlah massa, warga juga tidak melakukan aksi anarkis.
Kepala Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Sumenep, Junaidi mengatakan, masyarakat selama ini tidak pernah mendapatkan pupuk bersubsidi, dan mereka sudah berusaha mencari ke kios, namun tetap tidak mendapatkan jatah. Padahal, mereka telah tergabung dalam kelompok tani.
"Aksi ratusan petani ini merupakan puncak kemarahan petani setelah tanaman jagung dan padi menguning karena tidak dipupuk dan terancam gagal panen," ujar Junaidi pada detiksurabaya.com di lokasi, Jumat (05/12/2008) dini hari.
Dia menjelaskan, para petani yang memaksa menurunkan pupuk dari truk yang rencananya akan di kirim ke gudang pupuk Kaltim di Marengan, Kalianget, Sumenep itu bukan untuk dijarah tapi tetap akan dibeli seperti patokan pemerintah. Bahkan, ada yang berani membeli di atas harga eceran tertinggi (HET).
"Pupuk yang diturunkan paksa dari truk oleh petani itu tetap akan dibeli. Bukan untuk dijarah," terang Junaidi.
Salah seorang warga setempat, Mustofah (34) mengatakan, selama ini warga Desa Aengdake tidak pernah mendapatkan jatah pupuk. "Dengan aksi penyanderaan dan menurunkan paksa pupuk yang ada di truk ini, baru masyarakat lega," ungkapnya.
Aksi penyanderaan truk pupuk, kata dia, tidak ada yang menggerakkan, melainkan spontanitas yang dilakukan petani dari 2 desa seiring dengan kelangkaan pupuk yang tidak teratasi di Sumenep. (bdh/bdh)











































