Ke-7 korban keracunan nasi rawon tersebut berasal dari Pasuruan dan Prolinggo, Jawa Timur. Semuanya dirawat di ruang IRD RSD Bangkalan. Data korban keracunan tersebut masuk RSD sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.30 WIB.
Salah seorang korban keracunan, Mohammad (29) warga Pasuruan mengatakan, selama 2
hari mengalami mual dan pusing dan hanya minum air kelapa. Namun, memasuki hari ke
3, mengalami muntah-muntah dan lemas. Bahkan, ada yang tidak sadarkan diri.
"Saya tidak kuat lagi untuk bergerak, tenaga terasa habis kepala tambah pusing serta
muntah diluar kewajaran," kata Mohammad pada wartawan di ruang IRD RSD Bangkalan,
Jalan Pemuda Kaffah, Rabu (26/11/2008).
Dia mengaku tidak biasa datang ke tenaga medis, sehingga saat mengalami keracunan saat makan nasi rawon yang dibeli dari pemilik warung dekat lokasi proyek pasar tidak langsung ke RSD seperti yang dialami 49 orang korban keracunan lainnya.
Hingga pukul 12.30 WIB, 27 korban keracunan masih menjalani perawatan intensif. Kondisi mereka parah sejak 1 hari setelah makan nasi rawon, Senin (24/11/2008) malam.
Sementara, Wakil Direktur RSD Bangkalan Andang Pradana mengatakan, para korban yang
langsung dilarikan ke RSD mayoritas membaik, namun yang terlambat dirujuk kondisinya
sangat buruk.
"Kita tetap berusaha maksimal agar pekerja proyek yang keracunan makanan itu
terselamatkan," kata Andang pada wartawan di kantornya, Jalan Pemuda Kaffah.
Hingga hari ke-3, korban keracunan mencapai 56 orang dan 27 diantaranya masih dirawat intensif di RSD Bangkalan. Pihak RSD juga mengambil kotoran para pasien keracunan untuk diketahui jenis racunnya.
Untuk mengungkap jenis racun tersebut, pihak Dinkes setempat telah mengambil sampel
nasi rawon yang dibeli dari salah seorang pemilik warung yang bertempat dekat dengan
proyek pasar. Sedangkan pihak kepolisian setempat juga telah memeriksa penjual nasi dan membuat tim pengusutan kasus tersebut. (bdh/bdh)










































