"Mereka kita pulangkan ke daerahnya masing-masing, karena kapasitas di lokalisasi ini sudah overload," kata Sekretaris Kesbanglinmas Kabupaten Madiun, Agus Budi Wahyono kepada wartawan di Lokalisasi Wisma Harapan Wanita Gude, Jiwan, Madiun, Sabtu (22/11/2008).
Sekitar 7 bangunan wisma yang berdiri di lokalisasi Wisma Harapan Wanita. Masing-masing wisma penghuni PSK-nya mencapai lebih dari 10 PSK. Padahal, pemerintah setempat memberi batas jumlah PSK sebanyak 71 PSK. Sedangkan PSK saat ini jumlahnya mencapai 121 PSK.
"50 orang ini (PSK) rata-rata penghuni baru yang tiba setelah lebaran," tambah Suwaji Ketua RT 6, RW 1 yang juga pengelola di salah satu wisma di Lokalisasi Wisma Harapan Wanita Gude.
Suasana pemulangan PSK yang umurnya mencapai sekitar 20-40 tahun terbilang haru. Sesama PSK saling berpelukan dan isak tangis tak terhindarkan. Mereka sepertinya tak rela melepaskan pekerjaannya sebagai pemuas nafsu birahi pria hidung belang. Mereka melambaikan tangan terhadap penghuni PSK yang tidak terkena pemulangan.
"Kasihan mereka Mas. Mereka dipulangkan terus mau kerja apa nanti. Padahal kita disini bekerja untuk menghidupi keluarga di kampung halaman," kata Nunuk (24) nama samaran salah satu PSK asal Nganjuk kepada detiksurabaya.com.
Sementara itu, 50 PSK itu dipulangkan ke daerahnya masing-masing seperti kawasan Jombang, Nganjuk bahkan ada yang dari Surabaya dengan menumpang bus pariwisata. Namun, mereka hanya diantar hingga di terminal masing-masing daerah dan tidak sampai di kampung halamannya, karena para PSK mengaku malu. Setiap PSK hanya mendapatkan uang transport dari Pemkab Madiun sebesar Rp 100 ribu. (roi/fat)










































