Meski terdengar aneh? namun hajatan itu tidak terdengar asing di dusun itu. Sebab tradisi manten kucing atau pengantin kucing itu sudah ada sejak 1930 silam dan rutin digelar tiap bulan November tepat di Jumat legi.
Tradisi itu lahir dari sebuah bencana kekeringan hebat yang melanda kawasan setempat. Hingga akhirnya Wono Samudro, pendiri Dusun Curahjati mendapat isyarat melalui mimpi untuk menggelar pernikahan aneh sekaligus unik sebagai penangkal kekeringan.
Banyak persyaratan yang harus dipenuhi sebelum tradisi manten kucing itu digelar. Salah satunya mempersiapkan sepasang calon pengantinnya. Bukan kucing mahal harga jutaan rupiah atau kucing berwarna tertentu. Justru semua jenis kucing mempunyai kesempatan untuk menjadi pusat perhatian di acara adat yang sudah berlangsung tujuh turunan ini.
Namun sepasang kucing itu harus berusia lebih dari tiga bulan serta berasal dari dua tempat berbeda di dalam satu kawasan. Dan hanya orang tertentu yang berhak untuk mencari hingga menjodohkan si calon pengantin.
"Misalnya kucing yang laki-laki dari hilir dan kucing perempuan harus dari hulu atau sebaliknya. Yang mencari harus Joko Tirto tidak boleh yang lain," jelas Mbah Martoyo, sesepuh Dusun Curahjati kepada detiksurabaya.com.
Setelah diarak keliling desa, di sebuah sumber air berada di tepi sungai berjarak sekitar 5 Km dari pemukiman warga, sejoli kucing itupun dinikahkan Mbah Martoyo sebagai pemangku adat. Siraman air bunga setaman dan kepulan asap kemenyan yang dibakar menyertai prosesi ijab nikah yang disaksikan puluhan warga.
Byur..byur.. dua sejoli itu pun diceburkan ke sumber air umbul sebagai tanda resminya pasangan suami istri baru tersebut. Entah karena dijodohkan atau kesal dikawinkan dalam usia muda, kedua kucing yang basah kuyup itu pun langsung ngacir meninggalkan lokasi
pernikahan tanpa sempat menikmati malam pertama. (fat/fat)











































