Namun perlahan, pondok itu menjelma menjadi tempat penampungan bagi mereka yang dianggap sebagai 'sampah masyarakat', seperti orang gila, preman, pemabuk, pecandu narkoba hingga pelacur.
Di pondok yang terletak di Desa Sekanor Kecamatan Paciran, Lamongan atau sekitar 5 kilometer dari kampung terpidana mati Amrozi, Tenggulun, Solokuro ini jauh dari kesan pondok untuk penyembuhan penyakit.
Bangunan pondok ini tidak seperti ponpes pada umumnya yang penuh dengan kamar dan penuh santri. Ponpes yang berada di pinggiran kampung ini didirikan oleh Ustadz Majaqin pada pertengahan 2004.
Bangunannya yang cukup sederhana dan terkesan angker itu berdiri di atas lahan seluas 50 meter persegi. Seluruh bangunannya terbuat dari bambu dan dikelilingi pagar bambu setinggi sekitar 2 meter dan pagarnya seolah menjadi benteng.
Di depan pondok terdapat tulisan "Khusus Rehabilitasi Sakit Jiwa Pecandu Narkoba-Mantan Preman-Anak Jalanan- Pengobatan Penyakit Dll" yang digantung di depan pintu masuk.
Ketika detiksurabaya.com, Jumat (14/11/2008) mengintip dari celah-celah pagar terlihat suasana yang sepi, nyaris tak ada penghuninya. Pandangan tak begitu leluasa karena terhalang terpal warna orange.
Pintu pondok juga dirantai dengan gembok. Di atas pintu pagar terdapat kayu mirip kentongan yang bagian kiri kanannya dirantai dan di tengah kentongan itu
terdapat susunan tulisan Arab yang ditulis dengan tangan. Pada kiri dan kanan pagar juga terlihat tulisan Arab.
Di dalam pondok ini terdapat dua bangunan utama yang terletak di sisi kiri dan kanan jalan masuk. Ruangan sisi kanan dengan keterangan tulisan yang digantung "Ruang Tamu" lebih besar dibanding yang satunya yang terdapat papan dengan tulisan "Pengajaran". Pada ruang tamu juga terlihat puluhan tas plastik.
Informasi yang digali, di pondok itu paling banyak merawat pasien sebanyak 7 orang. Itupun masih belum sepenuhnya sembuh total.
"Mereka pulang karena permintaan keluarga karena merasa tidak menunjukkan peningkatan di tempat ini," kata Ustadz Majaqin, pengelola ponpes dihubungi detiksurabaya.com.
Karena sepinya peminat, dia pun enggan melanjutkan niatnya. Pondok itu pun dibiarkan begitu saja tanpa dirawat. Dia mengaku hanya datang ke pondoknya dua kali sehari. "Saat ini tidak ada pasien yang dirawat," katanya. (gik/gik)










































