Minah Menghilang, Warga Beralih ke Kayu Bakar

Minah Menghilang, Warga Beralih ke Kayu Bakar

- detikNews
Rabu, 12 Nov 2008 16:02 WIB
Minah Menghilang, Warga Beralih ke Kayu Bakar
Sumenep - Krisis minyak tanah (Minah) yang terjadi sejak satu bulan terakhir di Kabupaten Sumenep, Madura semakin parah. Sub agen, pangkalan dan pengecer minyak tanah menempelkan pengumuman, "Minyak Tanah Kosong".

Kalaupun ada pengiriman, minah habis dalam hitungan menit. Sebab, antrean jerigen sudah mengular. Hargapun dipatok melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp 3.500 ditingkat sub agen dan Rp 4.000 per liter ditingkat pengecer.

Yayuk, pemilik sub agen minyak tanah Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep,   mengatakan, jerigen milik warga yang mendapat jatah minyak tanah hari ini sudah dititipkan sejak 2 sampai 3 hari sebelumnya. Sehingga, wajar kalau antrean jerigen minyak tanah sampai mengular. Namun, yang baru antre hari ini dapat dipastikan tidak akan mendapatkan jatah dan harus menunggu pengiriman lagi.

"Setiap orang hanya dijatah 3 liter minyak tanah agar yang sudah antri dapat bagian," ujar Yayuk pada wartawan di tempat kerjanya, Jalan Raya Sumenep-Lenteng, Rabu (12/11/2008).

Dalam sepekan terakhir, dia mengaku hanya mendapat jatah 1.000 liter. Padahal, dalam kondisi normal mencapai 5.000 liter. Akibatnya, banyak warga yang tidak mendapatkan minyak tanah meski baru dikirim. Kelangkaan minyak tanah kini terjadi dimana-mana.

Salah seorang ibu rumah tangga, Ny Hanifah (45) Warga Perumnas Bangkal, Sumenep mengatakan, selama krisis minyak tanah melanda Sumenep banyak warga perumahan yang memakai kayu bakar. Selain mudah di dapat, harganya jauh lebih murah. Bahkan, ada yang memasak dengan arang.

Menurut dia, kayu dan arang menjadi alternatif bagi warga perumahan, karena harga gas elpiji ukuran 12 kilo tergolong mahal yakni dipatok Rp 90 ribu.

"Jadi, kehidupan warga perumahan saat ini sepertinya mundur, mas. Sejak dulu tidak ada ceritanya, warga perumahan elit itu memakai kayu bakar atau arang," kata Hanifah pada detiksurabaya.com di rumahnya, Jalan Kangean 2 Perumnas Bangkal.

Sementara, Kabag Perekonomian Pemkab Sumenep, Ahmad Sadik membenarkan jika ada pengurangan stok minyak tanah ke Sumenep. Semula dijatah 125 ribu liter setiap pekan untuk 60 sub agen, saat ini hanya berkisar 85 ribu liter. Sehingga wajar kalau terjadi antrean minyak tanah di setiap agen maupun pangkalan setiap kali ada pengiriman.

Menurut dia, pemkab sudah berusaha melakukan komunikasi pada  Pertamina Camplong Sampang agar kebutuhan minyak tanah di Sumenep dapat terpenuhi, minimal mengembalikan pada stok semula yang dijatah 125 ribu liter setiap pekan.

"Pemkab sudah melakukan komunikasi dengan pihak pertamina, tapi kondisinya ya masih seperti ini," kata Sadik di kantornya, Jalan dr Cipto, Sumenep. (bdh/bdh)
Berita Terkait