Demi Sesuap Nasi, Penjual Gambang Rela Berkeliling

Demi Sesuap Nasi, Penjual Gambang Rela Berkeliling

- detikNews
Sabtu, 08 Nov 2008 08:21 WIB
Demi Sesuap Nasi, Penjual Gambang Rela Berkeliling
Tuban - Meski tergeser mainan canggih saat ini, bagi penjual gambang (perangkat gamelan kecil) usaha yang dilakukan tak akan sia-sia. Mereka berkeyakinan bisa menghidupi keluarganya.

Dalam tiga pekan, penjual gambang berkeliling menjajakan ke sekolah-sekolah TK dan SD di Kota Tuban. Meski hanya membawa 15 hingga 20 unit gambang, pedagang asal Pati, Jawa Tengah ini terus menawarkan benda yang diberi cat warna-warni.

Harga yang ditawarkan pun terjangkau. Mulai Rp 5.000 hingga Rp 45.000 per unit sesuai besar kecilnya gambang.

"Yang penting mendapat duit dengan cara halal Mas. Sekarang mencari pekerjaan juga sulit," ungkap penjual gambang asal Pati, Rasmanto (31) saat ditemui detiksurabaya.com di depan sekolah TK kawasan Jalan Pramuka Tuban, Sabtu (8/11/2008).

Tampak anak-anak TK mengelilingi penjual gambang keliling. Mereka menganggap masih ada mainan gambang. Apalagi perangkat musik mainan untuk anak-anak, semacam pianika sudah membanjiri dan dikenal setiap anak.

Bapak dengan satu anak ini mengaku datang ke Tuban bersama lima kawannya untuk berjualan gambang. Sudah lima wilayah kecamatan di Tuban dia kelilingi untuk menjajakan dagangan. Diantaranya di Kecamatan Tuban, Merakurak, Montong, Kerek dan Kecamatan Jenu.

Rasmanto mengaku kulakan gamelan kecil itu dari perajin mainan gambang di Solo. Di desanya ada pengepul gambang yang menjadi langganan kulakan penjual keliling. Area edar dagangannya mulai di wilayah Pati, Blora, Bojonegoro, Rembang hingga Tuban.

"Saya hanya menjual saja, tidak bisa membuat gambang. Ribet kalau harus membuat sendiri, kulakannya juga murah," ungkapnya tanpa mau menyebut berapa harga kulakan masing-masing gambang.

Sebelum masuk daerah Tuban dua minggu lalu, dia dan kawan-kawannya keliling wilayah Kabupaten Rembang. Sebagian kawannya, dari Rembang masuk Blora hingga Bojonegoro berkeliling kampung.

Rasmanto mengakui, pekerjaan itu terpaksa dilakukan karena sulitnya mencari pekerjaan. Berjualan gambang keliling, tak lebih dari mengisi kekosongan waktu kemarau, karena lading dan sawahnya tak bisa ditanami akibat tak ada air.

"Tapi sepertinya musim hujan sudah mulai tiba, semoga satu dua hari ini gambang saya habis. Sehingga bisa pulang kembali bertani," kata Rasmanto. (fat/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini