Peletakan batu pertama laboratorium tersebut dilakukan oleh Walikota Malag Peni Suparto di TPA Supit Urang, sekitar pukul 15.00 WIB. Jumat (07/11/2008).
Diharapkan, pada Maret 2009 pembangunan laboratorium yang dibangun dengan dana hibah dari CEERD (Center For Energy, Environmental, and Regional Development) dari Belanda ini akan selesai.
Wim Maskaant, perwakilan dari CEERD mengatakan dana hibah untuk proyek pertama kali di Indonesia ini awalnya akan dikucurkan sekitar Rp 50 hingga Rp 100 juta. "Jika berhasil akan kami bangun lab berikutnya, ujarnya saat ditemui seusai peletakan batu pertama
Lab tersebut nantinya akan berfungsi untuk menyerap gas metan dari timbunan sampah yang dihasilkan di dalam tanah. Lab akan didirikan diatas sel 4. Sel 4 adalah sel tertua di TPA tersebut. Sel yang dibangun berkedalaman sekitar 20 m itu berisi penuh timbunan sampah baik organik maupun sampan non organik.
Saat ini, TPA yang berdiri sejak 1994, hanya memiliki satu sel yang masih aktif diisi sampah Kota Malang. Sedangkan lima sela lain telah penuh. Diprediksi pertengahan 2009 sel satu-satunya ini akan penuh. Sedangkan sampah yang masuk perhari dalam sel itu adalah sekitar 700-800 meter kibik.
Pipa bor akan di masukkan sedalam sel tersebut. Dari pipa tersebut, gas metan yang keluar akan di bakar. Sehingga gas yang keluar akan berbentuk CO2. Gas Co2, 1/21 kali lebih ramah lingkungan dibanding gas metana.
Selebihnya, proyek pertama kali di Indonesia ini akan menyalurkan gas tersebut menjadi tenaga listrik. "Mungkin 2009 nanti akan bekerjasama dengan PLN," ujar Jarot Edi S, Humas Pemkot Malang. (bdh/bdh)










































