Korban yang juga pemilik dan nahkoda Perahu Motor (PM) Sumber Lancar berangkat dari Lamongan dengan tujuan Pulau Kangean bersama 6 anak buah kapal (ABK) untuk membeli ikan laut.
Di tengah perjalanan, terjadilah aksi perampokan hingga terjadi pembunuhan. Pelakunya 3 ABK yang merupakan kepercayaan korban yakni Heri, Saiful dan Soni, semuanya warga Lamongan.
Meski tak ikut beraksi, 3 ABK yang tak ikut merencanakan pembunuhan yakni Suwandi, Widodo dan Zamil, semuanya warga Lamongan diancam dibunuh. Ke-3 ABK yang tak ikut rencana kejam itu tidak berkutik saat korban dibunuh, kemudian diceburkan ke laut dan digandoli kir alat mesin yang biasa digunakan untuk maju-mundur kapal.
Setelah mayat korban diceburkan ke laut, PM Sumber Lancar dikendalikan 3 pelaku dan kandas di Perairan Desa Bantilan Kecamatan Kangayan, Sumenep pada, Sabtu (25/10/2008) lalu. Setelah itu, pelaku pun melarikan diri dengan membawa uang hasil rampokan sebesar Rp 80 juta.
Sedangkan 3 ABK lain yang juga saksi kunci pembunuhan dan perampokan itu pulang dan melapor pada Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Kabupaten Lamongan.
Berawal dari laporan tersebut, pihak DPC HNSI baru melaporkan ke Satpolair Kalianget, Sumenep, Senin (3/11/2008). Hari ini Satpolair langsung menerjunkan anggotanya ke tempat kejadian perkara.
Ketua DPC HNSI Kabupaten Lamongan, Anas Wijaya mengatakan peristiwa perampokan disertai pembunuhan yang dilakukan ABK-nya ditangani serius POlres Sumenep.
"Saya harap, pelaku yang saat ini melarikan diri cepat tertangkap," kata Anas Wijaya.
Hingga saat ini, korban perampokan sendiri masih dinyatakan hilang. Warga Kangean dan petugas membantu mencari mayat korban yang dijeburkan di tengah laut. Hanya, PM Sumber Lancar yang rusak dapat diselamatkan petugas.
Kasat Polair Kalianget, AKP Aryanto Agus Subekti membenarkan adanya laporan perampokan disertai pembunuhan. "Saat ini, anggota saya sedang melakukan penyelidikan di perairan Kangean bersama 3 ABK PM Sumber Lancar yang diduga tidak membantu aksi perampokan tersebut," kata Aryanto kepada detiksurabaya.com di kantornya, Jalan Pelabuhan Kalianget, Sumenep. (fat/fat)











































