Niatan pemerintah untuk benar-benar mandiri dalam industri pertahanan masih jauh dari kenyataan. Bayangkan propelen yang merupakan salah satu unsur terpenting peluru, ternyata masih mengandalkan impor dari negara-negara asing seperti Korea, Taiwan, Belgia dan Yugoslavia.
"Kami sangat menginginkan agar Indonesia memiliki pabrik propelen sendiri. Dengan demikian kita tidak lagi bergantung pada negara asing," ujar Kepala Divisi Munisi Pindad, Walujo saat menerima kunjungan media tour Departemen Pertahanan di pabrik yang terletak di kawasan Turen, Malang Jawa Timur, Jumat 31 Oktober 2008.
Walujo menjelaskan biaya untuk mendirikan pabrik propelen ini memang tidak murah. Butuh dana triliunan rupiah untuk mewujudkan pabrik bubuk mesiu ini.
"Tapi secara SDM kami mampu, insinyur-insinyur kimia kami sudah mampu melaksanankannya," jelas purnawirawan TNI ini.
Walujo menjelaskan dalam industri pertahanan strategis, memang niatan produksi bukan untuk mencari keuntungan, tetapi mewujudkan kemandirian. Hal ini yang masih menjadi kendala untuk menjadikan industri pertahanan benar-benar kuat dan mandiri.
"Jika membandingkan dengan pendekatan ekonomi tidak akan bertemu," jelasnya. (rdf/bdh)











































