Kisah Bulan November di Kampung Amrozi

Kisah Bulan November di Kampung Amrozi

- detikNews
Minggu, 02 Nov 2008 19:06 WIB
Kisah Bulan November di Kampung Amrozi
Lamongan - Hampir sepekan ini 'istana' Amrozi di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Lamongan menjadi sorotan dunia. Di kampung pria yang dikenal sebagai jago mereparasi handphone ini perkembangannya sudah cukup pesat.

Ketika 6 tahun lalu, sinyal handphone masih kedap-kedip. Wartawan yang meliput proses penangkapan hingga rekontruksi pelaku Bom Bali I terpaksa harus keluar desa atau mencari titik yang terjangkau sinyal.

Kini setelah 6 tahun, dan juga dibulan November pula, wartawan yang meliput proses eksekusinya sudah bisa lega.

Sudah banyak perubahan yang terjadi di kampung Amrozi dan saudaranya Ali Gufron alias Muklas itu, termasuk kepala desanya tak lagi dijabat Maskun. Sekarang desa tersebut dipimpin oleh Abu Sholeh.

Namun tempat tinggal Amrozi yang bersebelahan dengan rumah orangtuanya sama sekali tak berubah. Kondisinya hampir sama dengan saat Amrozi ditangkap 5 November 2002.

Rumah Amrozi memang akhir-akhir ini terlihat sunyi dan terkesan tak terawat. Ketika detiksurabaya.com mendekat terlihat pintu utama digembok. Serta teras samping terlihat kotor, Minggu (2/11/2008).

Di rumah itulah Amrozi dan istrinya tinggal saat ditangkap beberapa tahun lalu. Di ruang depan, saat itu digunakan istrinya untuk menjahit pakaian. Selain terdapat mesin jahit, polisi juga menemukan sejumlah peralatan untuk memperbaiki handphone.

Amrozi memang dikenal warga jago dalam memodifikasi handphone, khususnya untuk memperkuat sinyal. Dibanding sekarang, keadaannya Desa Tenggulun memang sudah jauh berbeda.

Saat penangkapan dahulu, warga setempat memang terkesan terisolir dari jaringan telepon seluler. Untuk berkomunikasi dengan handphone harus mencari lokasi yang terjangkau sinyal.

Saat itu, sejumlah titik yang terjangkau sinyal seluler diantaranya hanya di sekitar Ponpes Al Islam, rumah mantan Kepala Desa Maskun serta di belakang masjid yang posisinya sekitar 100 meter dari rumah Amrozi.

Sekarang, seiring perkembangan teknologi cukup luar biasa. Di desa yang berada di tepi Hutan Dadapan, warga sudah tak lagi kesulitan berkomunikasi dengan handphone.

Sejumlah Base Tranciever System (BTS) milik operator seluler sudah bertebaran. Bahkan, untuk menggunakan internet melalui akses paket data GPRS pun mak wuss.....
(gik/gik)
Berita Terkait