Dikuasai Tambang Emas, Kampung 56 Terancam Kekeringan

Dikuasai Tambang Emas, Kampung 56 Terancam Kekeringan

- detikNews
Minggu, 02 Nov 2008 09:29 WIB
Dikuasai Tambang Emas, Kampung 56 Terancam Kekeringan
Banyuwangi - Berada di bawah kaki Gunung Tumpang Pitu bagian Timur, tidak membuat kampung 56, Dusun Ringinagung, Desa Pesanggaran, Banyuwangi ini sulit untuk dicari atau dijangkau. Jalan tanah akan menemani sepanjang perjalanan ke kampung bekas petak perkebunan Belanda ini.

Belakangan, dalam setahun terakhir nama kampung 56 lebih dikenal masyarakat, terutama aktifis lingkungan dan jurnalis. Sebab kampung yang memiliki 80 Kepala Keluarga (KK) itu merupakan salah satu wilayah desa yang diduga terancam aktivitas eksplorasi tambang emas di puncak Gunung Tumpang Pitu.

Sebagian besar masyarakat kampung yang bertetangga dengan Teluk Pancer mengandalkan sektor pertanian tadah hujan sebagai penghidupan sehari-harinya. Tak heran jika musim hujan yang datang selalu dianggap sebagai berkah bagi warga desa.

Saat musim panas tiba, petani setempat memanfaatkan air Sungai Gangga, sungai satu-satunya yang tak jauh dari perkampungan untuk mengairi ladang, kebun dan sawah mereka.

Namun, sejak ada aktivitas eksplorasi tambang emas di atas gunung, desa itu kerap dirundung rasa khawatir. Karena debit air Sungai Gangga yang dulunya mampu menyuplai kebutuhan hektaran areal pertanian, sekarang dirasa sudah mulai tidak mencukupi lagi.

Aliran air di sungai yang mempunyai lebar 5 meter tersebut oleh perusahaan pertambangan dibendung dan dialirkan melalui pipa sepanjang kurang lebih 5 Km. Dengan bantuan 6 mesin dumping tenaga penyedot, air itu dialirkan secara maraton untuk memenuhi sifat rakus air dari eksplorasi tambang emas. Tiap mesin dumping dijaga 1-2 orang 'preman' kampung dengan gaji jutaan rupiah perbulannya.

"Air sungai sudah dibendung oleh mereka, untuk bercocok tanam kami bingung harus ambil air darimana," keluh Ketua Kelompok Tani Kampung 56, Ngadeni (60) kepada detiksurabaya.com, Minggu (2/11/2008).

Kesulitan lain di kampung terpencil ini, adalah sulitnya untuk mendapatkan air bersih sebagai kebutuhan masak, minum atau keperluan sejenis lainnya. Sumur yang mereka gali nyaris airnya mengandung kadar garam yang tinggi, tak jauh beda dengan kandungan garam air laut.

"Beruntung kami dapat bantuan dari pemerintah melalui program PNPM Mandiri," jelas Ngadeni.

Kini persoalan pasokan air bersih sudah mulai teratasi dengan dibangunnya tower beton sebagai wadah penampung air bersih yang diambil dari sumur bor sejauh 1 Km dari perkampungan. Sebetulnya tak jauh dari kampung 56 terdapat sumber mata air tawar yang jernih persis berada di puncak Gunung Tumpang Pitu. Namun lagi-lagi tambang emas 'merampas' sumber mata air yang disebut warga dengan Sumber Banyutowo itu. (iwd/fat)
Berita Terkait