"Alhamdulillah usaha kami mulai membuahkan hasil. Temuan ini kami rasa sangat penting, karena dari temuan ini kami bisa mengindikasikan jika lokasi ini adalah pusat pemujaan," kata salah satu arkeolog dari BP3 Trowulan, Ning Suryati saat dikonfirmasi detiksurabaya.com di lokasi Situs Babadan.
Ning menambahkan, pondasi candi yang ditemukan untuk sementara memiliki panjang dan lebar di masing-masing sisi sekitar 2 meter. Untuk ketinggiannya belum dapat diketahui, dan diperkirakan semua ukuran tersebut masih dapat bertambah.
Sedangkan sebuah benda pemujaan yang ditemukan menyerupai pripih. Benda yang dalam bahasa sejarah dikenal sebagai alat pemujaan kaum hindu kuno tersebut, memiliki panjang dan kedalaman masing-masing sekitar 12 cm.
"Untuk pondasi ini kalau melihat struktur yang tersisa kemungkinan dulunya memiliki tinggi sekitar 1,5 meter. Dugaan sementara bangunan ini merupakan gapura, atau pintu masuk ke lokasi pusat pemujaan," jelas Ning.
Ketika ditanya mengenai usia dan tahun pendirian pondasi yang ditemukan hari ini, Ning mengaku belum bisa memastikannya. Menurutnya, saat ini pihaknya baru bisa mengindikasikannya sebagai peninggalan Kerajaan Khadiri (Kediri) kuno.
"Melihat lokasinya, dugaan sementara kali ini terkait dengan Situs Tondowongso yang ditemukan awal tahun lalu. Jika itu benar, berarti bangunan ini merupakan peninggalan abad ke 11," tegas Ning.
Seperti diberitakan sebelumnya, Situs Babadan mulai digali oleh BP3 Trowulan Mojokerti sejak Sabtu, 25 Oktober yang lalu. Penggalain dilakukan, setelah dua bulan sebelumnya warga berhasil menemukan sejumlah benda bersejarah yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Khadiri.
Beberapa peninggalan yang ditemukan antara lain sebuah arca segi empat yang salah satu sisinya memiliki relief wajah raksasa, Arca Dwarapala dengan wajah menyerupai kera, potongan kepala arca, arca ganesha yang lebih menyerupai gajah, serta dua arca lainnya yang hingga saat ini belum dapat diidentifikasi jensi dan namanya. (gik/gik)