Unjuk rasa ini sebagai reaksi atas terjadinya perubahan air laut di perairan sekitar yang menjadi merah, serta matinya ribuan ikan yang terdampar di sepanjang pantai selama 3 hari berturut-turut. Para nelayan menduga peristiwa itu disebabkan limbah dari aktifitas pengeboran tambang emas Tumpang Pitu yang tak jauh dari lokasi unjuk rasa.
Dalam orasinya, ratusan nelayan itu mengecam serta menolak keberadaan tambang emas. Sebab selama setahun beroperasi (eksplorasi) dampak tambang emas tersebut sudah mulai dirasakan. Mulai dari berkurangnya debit air sungai hingga berkurangnya tangkapan saat melaut.
"Bagaimana kalau sudah eksploitasi, bisa mati semua warga Banyuwangi," Teriak seorang nelayan yang diamini rekan rekannya, Minggu (26/10/2008).
Selama satu jam, para nelayan itu bergantian menyampaikan aspirasinya pada rombongan Komisi IV DPR RI yang membidangi ESDM tersebut. "Tidak hanya nelayan yang terancam dengan tambang, para petani di kawasan Pesanggaran terancam dengan aktifitas tambang," Keluh Ngadeni (60) nelayan lainnya.
Sebab, lanjut Ngadeni, perusahaan emas sudah mulai membendung Sungai Gangga yang merupakan satu-satunya sumber air bagi ratusan hektar lahan pertanian.
Nelayan dari Pantai Grajagan pun tak kalah sengitnya mengecam tambang emas itu. Bahkan mereka membeberkan hasil investigasi terhadap merahnya air laut beberapa hari terakhir ini.
"Limbah dibuang melalui sungai kecil yang muaranya berada di tengah kawasan antara laut Pancer dan Grajagan," ujar Supariyanto, sambil menunjuk peta yang dibuatnya.
Menanggapi aspirasi para nelayan itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Suswono berjanji akan membawa permasalahan itu ke rapat kerja bersama pihak-pihak terkait.
"Kalau memang harus dibentuk tim, ya kami lakukan untuk investigasi atas laporan nelayan Banyuwangi ini," ujar Suswono di depan pengunjuk rasa.
(bdh/bdh)











































