Ratusan warga itu berasal dari Dusun Patemun, Dusun Satenggina dan Dusun Gayam. Warga miskin yang mayoritas orang tua itu merasa tidak diperhatikan oleh kepala desa. Sebab, sebagian warga miskin lainnya sudah menerima BLT pada tahap pencairan 2008 lalu.
Kedatangan warga miskin tersebut, diawali di Kantor Pos Kecamatan Camplong. Namun, pihak kepolisian setempat mengarahkan mereka mendatangi kepala desa. Sebab dinilai orang yang bertanggungjawab dan banyak tahu warga miskin di desanya.
Salah seorang warga miskin, Abnus (50) warga Dusun Patemun, Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Sampang, mengatakan tahun lalu semua warga miskin di Desa Tambaan menerima BLT. Tapi tahun ini sebagian besar belum menerimanya.
"Makanya, kami datang ke sini untuk menuntut kepala desa agar bertanggungjawab mencairkan," kata Abnus kepada detiksurabaya.com, di halaman rumah Kepala Desa Tambaan.
Selama ini, kata Abnus, warga miskin sering menanyakan ke kepala desa soal BLT yang belum cair. Namun, tidak ada penjelasan resmi. "Kalau memang kami dicoret dari daftar penerima BLT, alasannya, apa?," ujarnya.
Warga dari 3 dusun tersebut akan bertahan dan mengepung rumah kepala desa selama belum ada penjelasan resmi. Sebab, warga miskin sudah tidak lagi mempunyai kemampuan untuk hidup.
"Kalau kepala desa tidak keluar alias ngumpet dari persembunyiannya, warga miskin 1 desa yang tidak mendapat BLT akan ke sini semuanya," ancamnya.
Sementara Kepala Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Sampang, Suhartono hingga pukul 08.15 WIB tidak menemui para warga miskin tersebut. Diduga, kepala desa masih bersembunyi karena ketakukan tuntutan warga. (fat/fat)











































