Nasi 'Kenduri' Lodo Pak Yusuf 'Go Publik'

Nasi 'Kenduri' Lodo Pak Yusuf 'Go Publik'

- detikNews
Selasa, 21 Okt 2008 10:11 WIB
Nasi Kenduri Lodo Pak Yusuf Go Publik
Trenggalek - Mohammad Yusuf, begitu nama lengkap pria kurus kecil yang ernegik ini. Namun di tanah kelahirannya Trenggalek Jawa Timur, pria yang lama merantau di Padang Sumatera Barat ini, lebih dikenal dengan nama Pak Yusuf. Bahkan nama terakhir itu yang membawa keberuntungan, sebagai merek dagang 'Nasi Lodo Pak Yusuf'.

Apabila Anda kebetulan singgah ke Kota Trenggalek, 7 kilometer sebelum Kota Trenggalek, tepatnya di Desa Kedunglurah Kecamatan Pogalan, maka akan ditemui papan besar yang paling menonjol.

Masuk gang sekitar 20 meter, di situ tempat Pak Yusuf menjual ayam panggang (ingkung) dan Nasi Uduk (lodo). "Sebetulnya, nasi yang nasi jual ini, sama dengan nasi kenduri yang banyak di temui di kampung-kampung Jawa. Bedanya, kalau ada orang kenduri sampan mendapatkan secara cuma-cuma. Tapi kalau di sini, sampean harus membayar," kata pria humoris yang diiringi tawa renyahnya saat ditemui detiksurabaya.com, Selasa (21/10/2008).

Setiap hari, rata-rata 70 ekor ayam dipotong untuk memenuhi pelanggan tetap Warung Nasi Lodo Pak Yusuf. Mereka selain dari Trenggalek sendiri, juga banyak yang dari Kediri, Tulungagung, Jombang hingga Surabaya.

"Syarat ayam yang saya masak panggang, harus berusia minimal 5 bulan. Harus sehat, bukan ayam sakit," kata bapak 5 putra saat ditemui di tempat penyembelihan ayam di belakang rumahnya.

Setidaknya ada 6 proses sebelum ayam panggang Pak Yusuf ini bisa dinikmati, mulai menyembelih. Menggodok untuk dicabuti bulunya, dibesihkan isi jerohan. Kemidian dipanggang dan dicuci lagi, sebelumnya akhirnya dipasukan ke dalam kuali besar yang berisi bumbu rempah-rempah dan santan.

Kemudian dimasukan lagi hingga setengah jam, sebelum disajikan bersama kuah dengan diberi cabe utuh. "Saya membuah bumbu ayam panggang itu setahun 5 kali. Bawa ng merah, cabe dan bawang putih, masing-masing satu ton. Kemudian laos, jahe serta bumbu-bumbu lainnya menyesuaikan," kata Pak Yusuf sambil merinci satu persatu bumbu.

Pak Yusuf yang sekarang berusia 60 tahun lebih itu, mengaku mendapatkan ilmu memasak dan berjualan dari majikannya di Padang yang memiliki sejumlah restoran di kota-kota besar di Pulau Sumatera. Bahkan Yusuf muda telah dipercaya, untuk mengelola dan mengawasi bisnis makanan masakan Padang itu.

"Saya menganggap, di Sumatera itu tempat kuliah. Saya siap tidak dibayar, asalkan diberi kesempatan bekeja dan mengabdi," kata bapak yang pernah berjualan Tauge (kecambah) dan tahu ini di waktu mudanya.

Hingga sekarang, Pak Yusuf masih berpenampilan nyentrik. Memakai kaos oblong, celana lurik dan bersepatu cat. Serta peci seperti majikan bangsa Tionghoa. Bahkan banyak orang yang kecele (salah duga), karena Pak Yusuf sebagai pemilik warung yang cukup besar di kota Trenggalek, ternyata sering menyampu sendiri halaman warungnya.

Masih banyak cerita nyentrik Pak Yusuf. Baik dari pergawainya, anak-anaknya. Maupun istrinya. Bahkan Pak Yusuf masih mengawasi semua proses memasak, mulai dari memotong hingga menyajikan ke pelangganya. Hubungan Pak Yusuf dengan pegawainya juga dikenal akrab, mereka saling 'menggojlok' apabila bertemu.

"Bahkan Bapak itu tidak pernah marah, meskipun pegawainya melakukan keslahan. Paling hanya disindir, atau kesalahan itu dibetulnya sendiri agar mereka tiak mengulangi di kemudian hari," tambah Tomy yang kebetulan sedang berlibur di rumah mertuanya.


Berangkat dari Bothok Ayam

Kisah sukses Pak Yusuf ini diawali dengan bejualan bothok ayam, sekitar tahun 80-an. Kemudian masakan yang dijual di rumah yang kecil, ternyata menarik minat sejumlah pegawai di intansi di Kota Trenggalek dan sekitarnya.

"Saat ramai itulah, kemudian saya dan istri mencoba memasak Nasi Lodo. Makanan yang biasanya hanya ditemui saat orang menggelar kenduri itu, ternyata sangat diminati pembeli," kata Pak Yusuf mengenang masa lalunya.

Bahkan saat ada acara liputan rona-rona dari TVRI Surabaya, Camat Pogalan mencoba menawarkan usaha Pak Yusuf, karena dianggap unik, sebagai pengganti liputan lain yang ternyata tidak siap. Setelah itulah, pelanggannya terus bertambah hingga menembus beberapa kota.

Sekarang tidak hanya orang-orang Jawa Timur, namun pelanggan dari Semarang dan Jakarta juga sering singgah Warung Pak Yusuf. Bahkan pilot dari sejumlah maskapai penerbangan yang singgah di Surabaya, juga sering pesan Nasi Lodo buatan Pak Yusuf.

"Saat itu, saya sempat buka cabang di Jalan menuju Juanda lama. Sekarang saya tutup, karena pengelolanya tidak jujur. Ia sering mamasak ayam sayur, saat ayam kampung yang saya pasok habis. Saya tahunya dari pelanggan, karena ia sudah tahu mana ayam yang masakan saya dan mana yang bukan," jelas Pak Yusuf.

Selain ayam panggang dengan kuah pedas, nasi lodo ditambah urap-urap, seperi layaknya orang kenduri. Bahkan di atas piring, Pak Yusuf tetap memberi alas daun pisang.

"Ini namanya nasi lodo, kalau tidak lengkap seperti itu, ya bukan nasi lodo," kata Pak Yusuf yang mengaku usahanya sekarang sudah banyak diikuti orang. (gik/gik)
Berita Terkait