Pengrajin Batik Gedok Tuban Terancam Kolaps

Pengrajin Batik Gedok Tuban Terancam Kolaps

- detikNews
Senin, 20 Okt 2008 08:01 WIB
Pengrajin Batik Gedok Tuban Terancam Kolaps
Tuban - Tingginya bahan baku dan imbas krisis ekonomi global membuat nasib pengrajin Batik Gedok, batik tradisional Tuban menjerit. Selain hasil penjualan produksi menurun hingga 40%, pasar ekspor merosot tajam. Bahkan sejumlah rekanan mulai menghentikan permintaan.

Salah satu pengrajin dan pengepul Batik Gedok Tuban, H Zaenal omset penjualan produksi batik menurun. Pengekspor dari beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Perancis, Singapura dan Belanda menghentikan pesanannya.

"Kalau dikalkulasi penurunannya lebih dari 40%. Kondisi ini benar-benar di luar perkirakan kami," kata H Zaenal kepada detiksurabaya.com di rumah produksi batiknya di Desa Margorejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Senin (20/10/2008).

Menurutnya, sejak krisis moneter tahun 1998/1999 silam, kondisi kerajinan batik Tuban nyaris punah. Bahkan, para pengrajin rumahan tak mampu produksi, sehingga mereka berkumpul membentuk kelompok. Termasuk kelompok di bawah binaan H Zaenal.

Lemahnya pasar nasional, menjadikan pengrajin batik merambah ekspor. Sasarannya negara-negara di Eropa, Amerika, Jepang dan Singapura. Itu mereka lakukan karena harga jual kerajinan tangan ini tak terbeli di pasar lokal, karena harganya yang lumayan tinggi. Yakni berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per potong. Untuk kualitas terbaik, dari bahan kain sutera bisa menembus Rp 2 juta.

"Semula kami cukup tenang karena pemesan dari luar negeri banyak. Eh ternyata belakangan malah tidak menentu, orang luar negeri mulai mempersoalkan harga. Bahkan ada kiriman kita juga belum dibayar," kata H Zaenal di samping beberapa pengrajin Batik Gedok lainnya yang ditemui secara terpisah di Desa Margosuko, Kerek.

Jika dihitung, menurut pengrajin lain yakni Samsul Maarif, pengrajin batik lainnya, pasar nasional dari Bali, Jakarta, Surabaya dan daerah lainnya di tanah air, hanya mampu menyerap 10 hingga 15%. Oleh karena itu, pengrajin mengandalkan pasar di luar negeri, melalui para pengusaha di Bali dan Jakarta.

Kini kondisi pengrajin Batik Gedok di Tuban mulai panik. Apalagi mereka terlanjur memproduksi banyak, namun tiba-tiba pasar di luar negeri belakangan juga goncang.
(fat/fat)
Berita Terkait