Akibat dibongkarnya ruangan kelas, puluhan siswa kelas IV, V dan IV harus belajar di luar gedung sambil menunggu siswa kelas I, II, dan III dipulangkan. Itupun kondisi 3 kelas lainnya yang tidak dibongkar oleh warga kondisinya sudah memprihatinkan. Asbes dan plafon berjatuhan karena dimakan usia.
Kepala Sekolan SDN Amparan I, Bangkalan Zainul Arif mengatakan, sebagian lahan gedung memang milik warga setempat. Sejak awal pemerintah memang tidak pernah membayar uang sewa. Namun, belakangan ini pemilik lahan menuntut ganti rugi atau uang sewa.
”Pihak sekolah tidak mempunyai kemampuan untuk membayar uang sewa. Lalu, pemilik lahan membongkar paksa,” kata Zainul Arif pada wartawan di SDN Amparan I, Bangkalan, Jumat (10/10/2008).
Dia mengaku kecewa dengan sikap pemilik lahan yang kurang respon terhadap dunia
pendidikan. Padahal, jumlah siswa SDN Amparan I mencapai 100 lebih. ”Kalau gedungnya sudah tidak ada, anak didik kami juga terlantar,” ungkapnya.
Meski sudah ada rencana, pihak aparat desa meyediakan lahan percaton untuk pembangunan gedung baru. Namun, menjelang musim penghujan ini sangat mengganggu aktifitas belajar mengajar siswa.
”Kami masih kebingungan, mau belajar dimana anak didik kami setelah gedungnya dibongkar oleh warga,” katanya memelas.
Dia berharap, agar pemerintah daerah memikirkan kondisi siswa SDN Amparan I. Sebab, bila tidak ada solusi secepat mungkin, maka KBM siswa akan terbengkalai karena tidak ada gedung yang akan digunakan. (bdh/bdh)










































