Peristiwa yang menimpa bapak dua anak ini bermula saat perahu motor penangkap ikan berlayar menangkap ikan Rabu dinihari. Saat itu selain korban, 11 nelayan lain menjadi awak perahu motor penangkap ikan bernama 'Soneta' itu.
Seperti hari-hari sebelumnya, sebagai buruh peharu, korban bersama sejumlah rekannya bertugas menebar dan menggulur jaring berukuran besar. Dengan menggunakan gethek bambu, korban menyeret salah satu mata jaring menjauhi perahu.
Usai menebar jaring itulah awak perahu lainnya tidak lagi melihat korban di getheknya. "Kami berusaha mencari dengan mencari dengan cara menyelam hingga ke dasar laut. Tapi semuanya sia-sia, karena tuhuh korban tak kunjung terlihat," ujar salah satu rekan korban, Jumanto (45).
Seluruh awak perahu kian panik setelah 30 menit mayat korban belum juga muncul ke permukaan. Namun saat jaring kemudian diangkat ke dek perahu, para awak perahu motor 'Soneta' tersebut dikejutkan dengan sosok tubuh yang ternyata jenazah Wahidi.
"Kemungkinan saat menebar jala dengan gethek, penyakit asma korban kambuh. Apalagi menurut keterangan keluarganya korban juga mengidap penyakit jantung," jelas Kapolsek Panarukan, AKP Supadi saat dikonfirmasi.
Saat itu juga jenazah korban langsung dievakuasi ke darat menuju rumah duka. Jerit histeris dan tangisan keluarga korban mengiringi kedatangan dan proses penguburan Wahidi yang dimakamkan saat itu juga di TPU setempat. (fat/fat)










































