Sekitar pukul 08:30 Wib, usai Salat Id, ratusan jamaah tidak langsung pulang, melainkan berkumpul di depan halaman pesantren untuk menyaksikan pesta petasan yang diakomudir oleh pihak pesantren.
Tak tanggung-tanggung, mercon rentengan sepanjang 40 meter digantung di pohon kelapa terdekat. Lalu, dibakar. Dan bunyi letusannya saling bersahutan memecah kesunyian.
Tidak hanya itu, mercon dalam ukuran besar juga dibakar. Bahkan, mercon dari karbit (bahan baku las) yang ditanam dalam tanah dengan bunyi mirip bom juga ikut meramaikan pesta lebaran ala pesantren tersebut.
Bahkan letusan mercon karbit ini hingga menggetarkan tanah hingga radius 500 meter.
Salah satu pengurus pondok pesantren Al-In'am, Turmudzi Adfa mengatakan, pesta petasan sudah menjadi tradisi usai Salat Id.
"Pesta petasan ini bagian dari memeriahkan Idul Fitri," kata Turmudzi Adfa pada detiksurabaya.com di halaman pondok, Rabu (1/10/2008).
Dia menjelaskan, petasan yang dipersiapkan baik oleh warga sekitar maupun oleh pihak pondok.
Hal serupa dilakukan oleh pengurus Masjid Nurul Hidayah yang jaraknya 100 meter dari pondok pesantren tersebut. Warga setempat sepertinya ikut senang dan rela menyaksikan ledakan petasan dan mercon karbit pendem.
Dua kelompok warga, baik dipihak pesantren dan jamaah masjid tersebut ternyata mengadu bunyi letusan dan jumlah petasan yang dibakar. "Pihak pesantren dengan jamaah masjid itu, perang petasan. Ini terjadi setiap tahun," ujar Turmidzi.
Pantauan detiksurabaya.com, meski petasan yang dibakar dua kelompok warga tersebut dalam jumlah besar dan mengganggu pengguna jalan tidak ada pihak aparat keamanan yang mengamankan (gik/gik)










































