Selain itu juga terdapat beberapa titik penyempitan bahu jalan yang memaksa pemudik ekstra hati-hati saat melintasi jalur ini. Di ruas Desa Ngreco Kecamatan Tegalombo misalnya, lebar jalan yang mengalami penyempitan mencapai dua titik. Bahkan untuk sekedar berpapasan kendaraan roda empat harus saling bergantian lewat.
"Disitu kami menempatkan petugas untuk mengatur lalu lintas. Karena selain rawan kecelakaan ruas jalur itu juga rawan longsor," terang Kasatlantas Polres Pacitan AKP Sudarhanto kepada detiksurabaya.com, Minggu (28/9/2008).
Lebih lenjut Sudarhanto menjelaskan, selama musim mudik dan balik lebaran pihaknya menempatkan lima posko. Penempatan ke lima posko tersebut sengaja dibuat menyebar. Ini karena posisi
Kabupaten Pacitan cukup unik. Yakni berada di perbatasan tiga polda. Yakni Polda Jatim, Jateng dan DIY.
Tentunya, selain bertujuan menjaga kelancaran lalu lintas selama lebaran, pendirian pos pantau tersebut juga dimaksudkan untuk meminimalisasi gangguan kamtibmas.
"Hampir seluruh wilayah di Pacitan merupakan daerah rawan kecelakaan. Tapi memang kita konsentrasikan ke daerah perbatasan dan jalur yang dilalui pemudik," ujar kasatlantas seraya menyebut kegiatan yang digelar sebagai operasi kemanusiaan.
Penempatan posko sendiri, kata Sudarhanto dibagi dalam tiga klasifikasi. Yakni kategori rawan kecelakaan, rawan macet dan posko kunjungan wisata.
Sementara itu, pantauan detiksurabaya.com di terminal bis Pacitan, hingga hari ini ,angka kedatangan pemudik belum menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Sabtu siang (27/9/2008) jumlah armada bus yang datang baru sekitar 25 unit dengan jumlah penumpang 2.500 orang.
Jumlah itu jauh lebih sedekit dibanding masa mudik lebaran tahun sebelumnya, dimana bus yang masuk terminal bus Pacitan pada H-3 lebaran mencapai 40 unit. Penyebabnya diduga banyak pemudik yang menggunakan moda angkutan pribadi dan sepeda motor. (bdh/bdh)











































