Dari pengakuan anak ketiga pasangan Misati (50) dan Katirin (40) saat penembakan, beberapa polisi memasuki kamar dan menodongkan senjatanya ke tersangka Agung Wijaya (31).
"Saat itu posisi saya terbaring di lantai. Sementara dia mengangkangi saya dengan senjata yang setiap saat ditempelkan ke tubuh saya," kata Erna saat dirawat di Puskesmas Singojuruh yang didampingi orangtua dan kerabatnya kepada detiksurabaya.com, Kamis (25/9/2008).
Setelah itu beberapa polisi masuk dan melumpuhkan tersangka dan dirinya langsung dievakuasi dan langsung dirawat di Puskesmas Singojuruh.
"Saya mendengar ada suara tembakan. Entah detailnya ada berapa," kenang Erna.
Namun yang pasti dirinya beberapa kali ditodong oleh senjata tersangka yakni parang, tombak dan sumbat (alat pengupas kelapa). Erna yang tak sekolah lagi mengaku tidak tidur selama penyanderaan. Meski disekap namun gadis berparas manis ini tidak mendapat perlakuan tidak senonoh oleh tersangka.
"Saya hanya ditodong saja, tidak ada tindakan yang lain," tambah Erna dengan suara lemah sambil berbaring di tempat tidur.
Sementara kedua orang tua korban mengaku lega anaknya selamat. Selama
penyanderaan, Misati mengaku lemas dan tidak mampu berbuat apapun. Dia mengaku hanya pasrah dan berdoa untuk keselamatan anaknya.
"Saat itu saya sudah tidak bisa berpikir lagi," katanya.
Saat kejadian, menurut Misati anaknya baru saja berbuka puasa. Kemudian akan mengambil air wudhu di sungai yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah tersangka. Sepulang dari sungai itulah tersangka menangkap korban dan selanjutnya terjadi drama penyekapan.
"Padahal anak saya bersama teman-temannya, kenapa anak saya saja yang disekap," ujarnya tidak habis pikir.
Katirin sendiri mengaku tidak pernah punya masalah dengan tersangka. Selama ini hubungan tersangka dengan keluarganya baik. Katirin juga menolak ada motif asmara antara anaknya dengan tersangka.
"Tidak ada, yang jelas dia memang seringkali stres semenjak cerai dengan istrinya," bebernya. (fat/fat)











































