Di Desa Kayen, warga terpaksa membuat sumur bor di areal persawahan. Padahal jarak areal persawahan itu cukup jauh dari pemukiman.
Untuk penyedot warga menggunakan pompa air listrik. Sedangkan penditribusiannya digunakan selang sepanjang 300 hingga 500 meter. Upaya tersebut harus ditempuh lantaran sumur gali yang ada di pekarangan telah mengering.
"Memang biayanya cukup besar tapi gimana lagi, kalau tidak begini ya tidak bisa mandi dan minum," keluh Suwardi (65), warga setempat saat ditemui detiksurabaya.com, Sabtu (20/9/2008).
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani tersebut menuturkan, untuk pemasangan satu titik sumur bor sedalam 30 meter dibutuhkan anggaran sedikitnya Rp 5 juta. Biaya sebanyak itu digunakan untuk ongkos tukang serta pembelian pompa dan selang. Beban itu masih ditambah lagi pembengkakan rekening listrik tiap bulannya.
Lebih lanjut Suwardi menjelaskan, khusus menjelang lebaran ia sengaja memprioritaskan penyediaan air bersih untuk keluarga yang hendak mudik. Terlebih, lebaran tahun ini bertepatan dengan puncak kemarau panjang.
"Sudah jauh-jauh datang, masak mau mandi saja tidak ada air. Kasihan to?" ujar Suwardi sambil tertawa saat ditemui sedang membenahi selang yang mengalirkan air ke rumahnya.
Kondisi serupa juga dialami puluhan kepala keluarga di Dusun Tawang Desa Nanggungan. Meski terletak di bibir Sungai Grindulu yang merupakan sungai terbesar di Pacitan, namun kelangkaan air bersih tetap tak terelakkan.
Bahkan sumur di pekarangan sejak 4 bulan terakhir kering kerontang. Untuk mencukupi kebutuhan warga juga membuat sumur bor di samping sumur gali yang mengering.
"Agar menembus permukaan air kedalaman pipa harus dibuat minimal 30 meter," ujar Rubi (28), warga setempat. (bdh/bdh)











































