Suli meninggalkan Lapas pukul 15.15 WIB, Kamis (18/9/2008) dengan dijemput petugas. Suli pun hanya bisa menangis ketika mengetahui putrinya sudah tak bernyawa. Suli dan rombongan polisi pun meluncur ke Desa Sugihwaras Kecamatan Ngraho untuk pemakaman Sri Wahyuni.
"Saya sudah menandatangani surat penangguhan penahanan," kata Kepala Lapas Bojonegoro Krisnanto SH saat dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (18/9/2008), pukul 15.36 WIB. Surat itu juga ditandatangani Kapolwil Bojonegoro Kombes Pol Nur Ali dengan nomor: 0.0:SP/HAN/1862/IX/2008/Reskrim.
"Penangguhan Suli tanpa batas waktu. Yang penting sudah ada pertanggungjawaban dari pihak pengambil," katanya.
Suli baru 3 hari menghuni Lapas Bojonegoro karena kasus pencurian kayu. Dia ditangkap 12 September 2008 dan dititipkan oleh Polres Bojonegoro ke Lapas 15 September 2008.
Sebelumnya, peristiwa ini terjadi di Lapas Bojonegoro, Jl Diponegoro. Saat itu, Supatmi (30) dan anaknya Sri Wahyuni (6) warga Desa Sugihwaras Kecamatan Ngraho, Bojonegoro bermaksud menjenguk Suli yang menjadi tahanan di
lapas itu.
Namun, sesaat baru turun dari becak yang dinaikinya di depan gerbang lapas, tiba-tiba dia mendengar suara letusan. Setelah itu Supatmi melihat anaknya jatuh tersungkur. Belum sempat Supatmi menolong anaknya, dia kemudian merasakan sakit di daerah pinggul kanan dan akhirnya diapun ikut jatuh tersungkur juga. Satu korban lagi adalah juru parkir yang menjadi narapidana bernama Aziz Sulaiman (25).
Anggota polisi yang senjatanya meletus dan merenggut nyawa Sri Wahyuni adalah Bripda Supriyanto yang saat itu akan mengawal narapidana ke sidang di Pengadilan Negeri Bojonegoro.
Menurut Kamari salah seorang petugas Lapas yang juga menjadi saksi mata menceritakan, saat itu ada dua anggota polisi yang akan mengawal tahanan menjalani sidang. Saat itu dua orang polisi itu duduk bersebelahan di samping pintu gerbang lapas bagian dalam.
Keduanya polisi tersebut bernama Bripda Supriyanto dan Bripda Aris Wahyudi anggota Polres Bojonegoro. Saat itu senjata laras panjang jenis V2 ditumpangkan di atas paha keduanya. Entah tanpa sengaja, senjata milik Bripda Supriyanto terjatuh dari pangkuan dengan posisi popor terlebih dulu menyentuh lantai. Dan dor! Sebuah peluru menerjang 3 orang sekaligus. (gik/gik)










































