Praktek pengemis di perumahan dan perkantoran, mereka menyisir dengan pakaian seadanya. Layaknya seorang peminta-minta. Sedangkan yang praktek di pinggir jalan jalur Pantura, mereka membawa timba atau kotak terbuka yang diacung kepada setiap pengendara yang melintas.
Hasil pemantauan detiksurabaya.com di lapangan, komunitas pengemis ini berasal dari sejumlah daerah luar Kabupaten Tuban. Diantaranya dari wilayah Jombang, Pasuruan dan Pati (Jawa Tengah). Mereka, diantaranya anak-anak datang di Tuban dengan naik mobil secara rombongan.
Setelah usai melakukan praktek mengemis, para pengemis yang berasal dari Pasuruan berkumpul dengan komunitasnya di Masjid Agung sekitar alun-alun kota Tuban.
"Kalau pagi kita keliling sekitar kota, sore hari sekitar jam empat kita harus kumpul di depan masjid alun-alun," kata Ny Siti Nasiyah, salah seorang pengemis, saat ditemui detiksurabaya.com di kompleks perumahan Karang Indah Tuban, Rabu (17/9/2008) siang.
Pengemis asal Grati, Pasuruan ini mengaku, ia bersama 12 kelompok datang dari daerahnya. Setiap kelompok dengan sekitar 10 sampai 14 orang dikoordinir seorang ketua regu. Ketua regu ini yang menyewakan kendaraan dari Pasuruan ke Tuban.
Nasiyah mengaku, setiap hari harus keliling dari rumah ke rumah dan kantor ke kantor pemerintah, untuk meminta sedekah. Setelah dana terkumpul dibagi rata dengan para anggota kelompok. Termasuk juga disisihkan untuk biaya lain-lain, seperti untuk obat jika ada yang sakit dan transport.
Kondisi tak jauh berbeda menimpa kelompok pengemis dari Pati dan Jombang. Jika siang hari mereka praktik lapangan, jika malam hari menempati kamar-kamar di rumah kontrakan murah di pinggiran kota Tuban. Kamar-kamar yang dikontrakkan ini, rata-rata seharga Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per bulan.
Sementara itu, pemandangan asing terjadi di kawasan Jalur Pantura Tuban. Para pengemis dari lokal Tuban maupun luar daerah, membuka praktek meminta-minta di jalanan. Pengemis anak-anak dan orang dewasa, membawa timba plastik kecil di perempatan trafick light.
Apalagi untuk perempatan jalan di jalur Pantura Tuban. Komunitas pengemis ini mengambil lokasi jalur ini, karena sejak sepekan terakhir arus kendaraan meningkat bersamaan menjelang datangnya lebaran. Diantaranya di wilayah jalan RE Martadinata, Panglima Sudirman, manunggal hingga kawasan Jalan Teuku Umar.
"Pengemis ini seperti musiman, baru beberapa hari ini ada. Biasanya setelah itu menghilang lagi," kata Ny Atik (43), warga di kawasan jalan Panglima Sudirman Tuban.
(bdh/bdh)











































