Aksi ini sebagai protes keberadaan Kangean Energy Indonesia (KEI) yang sedang melakukan survey seismik. Dan bentuk warga meminta pertanggungjawaban.
"Sejak awal masyarakat sudah menolak jika akan dilakukan survey seismik. Sebab, antara manfaat dan negatifnya akan lebih banyak negatifnya. Tapi, suara warga nelayan pulau Mamburit tidak pernah didengar. Kalau sudah ada kecelakaan laut dan mata pencaharian nelayan mati, lalu siapa yang harus bertanggungjawab," kata salah seorang nelayan, Samsul Arifin (43) warga setempat kepada detiksurabaya.com di lokasi, Rabu (17/9/2008).
Mereka terpaksa menggelar aksi demo di bibir pantai Pulau Mamburit, selain bentuk protes pada KEI juga upaya menyusun kekuatan aksi berikutnya.
"Dengan aksi kali ini, maka warga yang belum tahu jika ada survey seismik akan tahu. Lalu, kita galang kekuatan untuk aksi berikutnya," ujarnya.
KEI dinilai mematikan mata pencaharian nelayan sejak dimulainya survey seismik 15 September 2008 lalu. Sebab, area survey terlalu dekat ke bibir pantai dan mengganggu tempat nelayan mencari ikan. Akibatnya, nelayan mengalami keterpurukan pendapatan selama 2 hari terakhir.
Para nelayan juga menyesalkan kurangnya sosialisasi survey seismik dari pihak KEI. Sehingga, nelayan banyak yang tidak tahu jika ada aktivitas yang membahayakan pencari ikan di laut. Kalaupun ada sosialisasi hanya dilakukan pada segelintir orang yang tidak mempunyai keterikatan dengan area survey.
Protes para nelayan yang dilampiaskan dengan cara berorasi di bibir pantai setempat itu berlangsung sejak 07.30 WIB hingga pukul 08.00 WIB. (fat/fat)











































