Jelang Lebaran, Penjualan Keripik Tempe Meroket

Jelang Lebaran, Penjualan Keripik Tempe Meroket

- detikNews
Senin, 15 Sep 2008 08:51 WIB
Jelang Lebaran, Penjualan Keripik Tempe Meroket
Ngawi - Dua pekan menjelang Lebaran, penjualan keripik tempe di Ngawi mengalami peningkatan. Para pedagang mengaku omzet pemesanannya meningkat hingga 100%.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu pengusaha keripik tempe di Kelurahan Sadang, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, Dani Anggoro (35). Dirinya mengaku dalam sepekan ini omzet pemesanan naik 2 kali lipat.

"Dalam seminggu ini Mas pemesanan naik 100 persen. Baik dari Jogja, Madiun serta Bojonegoro. Karena permintaan banyak, pekerja akhirnya lembur terus dan bekerja selama 12 jam," jelas Dani kepada detiksurabaya.com, di lokasi Senin (15/9/2008).

Bila sebelumnya hanya mampu menjual 1.000 bungkus, kini menjelang Lebaran bisa mencapai 2.160 bungkus keripik tempe. Untuk memproduksi tempe lebih dari 2 ribu bungkus setiap harinya, Dani dibantu 8 karyawannya. Mereka dipekerjakan mulai pagi sebelum shubuh sekitar pukul 04.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Dijelaskan oleh Dani, untuk pembuatan keripik, pihaknya mengaku bahan kedelai impor dari Argentina dinilai lebih menghasilkan tempe yang berkualitas dibanding dengan kedelai lokalan. Untuk setiap harinya Dani memerlukan kedelai 30 kilo namun dalam sepekan menghabiskan 40 kilo hingga 60 kilo.

Sementara per bungkus keripik tempe yang diproduksi Dani diberi merk Dhimas ditawarkan mulai harga Rp 1.500, Rp 3.000 serta Rp 5.000. Harga-harga keripik yang gurih dan makanan khas Ngawi itu selalu dipesan dari Jogja, Madiun serta Bojonegoro.

Dani mengaku, omzet keripik tempe setiap harinya tak lebih dari Rp 1 juta. Total setiap bulan dia mampu meraup keuntungan bersih sekitar Rp 1,5 juta.

"Seminggu sekali harus membayar Rp 600 ribu untuk 8 pegawai. Paling kita dapat untung bersih cuman Rp 1 juta," jelasnya. (fat/fat)
Berita Terkait