Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Madiun Lilin Sariva mengatakan, sindikat daging palsu tersebut berkeliaran di perkampungan dan diduga dilakukan para tengkulak beras yang mengambil daging dari jagal di Ngawi.
"Kita pernah coba ambil contoh di hajatan warga. Setelah kita teliti ternyata bukan daging sapi melainkan daging babi hutan. Dan dari pengakuan pemilik hajat, mereka beli dari makelar yang telah mengambil dari salah satu jagal di Ngawi," jelas Lilin kepada detiksurabaya.com saat dihubungi, Sabtu (13/9/2008).
Lilin menambahkan, para sindikat diperkirakan tiap kecamatan ada 5 hingga 10 orang. Daging sapi biasanya diganti dengan daging babi hutan hasil tangkapan para pemburu.
Saat ini ada 15 PTL (Petugas Tehnik Lapangan) yang melakukan sidak di pasar-pasar. Mulai Pasar Saradan, Pasar Caruban, Pasar Jiwan juga di pasar tradisional serta perkampungan warga yang menjadi sasaran sindikat daging palsu.
Dalam melakukan pelacakan daging palsu, pihaknya meningkatkan frekuensinya untuk sidak. Selama Ramadan dilakukan tiap hari, namun bila sebelum Ramadan hanya dilakukan 2 minggu sekali.
Sementara itu untuk antisipasi beredarnya daging palsu, Dinas Peternakan melakukan sosialisasi ke warga untuk mengerahui ciri-ciriĀ daging gelonggongan, daging sapi palsu serta daging berformalin. (fat/fat)










































