Tuntut THR, Buruh PT HGI Lubangi Jalan Akses ke Pabrik

Tuntut THR, Buruh PT HGI Lubangi Jalan Akses ke Pabrik

- detikNews
Jumat, 12 Sep 2008 09:24 WIB
Bojonegoro - Ratusan buruh PT Himalaya Grafurin International (HGI) kembali menggelar unjuk rasa menuntut pemberian tunjangan hari raya (THR), Jumat (12/9/2008).

Kali ini unjuk rasa yang digelar dengan melubangi akses jalan masuk pabrik dengan menggunakan cangkul dan linggis. Hal ini dilakukan agar kendaraan milik pabrik meubel ekspor tak bisa beroperasi.

Aksi yang dibantu warga sekitar ini dilakukan, setelah Selasa (9/9/2008) lalu aksi buruh tidak digubris. Bila aksi pertama digelar di pabrik 1 Jalan Hayam Wuruk, kini aksi dilakukan di pabrik 2 Jalan Lettu Suyitno No 16 Bojonegoro.

Beberapa poster yang diusung buruh pun dibentangkan. Diantaranya, "Tutup Grafurin Yang Tidak Manusiawi","Buruh Juga Manusia, Bukan Kucing","Hapus Outsourcing Kapitalis".

"Kami tetap akan aksi sampai perusahaan mau memenuhi tuntutan kami. Kalau tahun lalu ada THR, kenapa sekarang tidak," kata seorang pengunjuk rasa, Ribut Widodo kepada detiksurabaya.com sambil menenteng cangkul di lokasi.

Ribut adalah salah satu dari sekitar 50 orang karyawan PT HGI yang dipecat tanpa pesangon setelah menggelar unjuk rasa Selasa lalu. Mereka telah mengadu kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bojonegoro, namun tetap tidak mendapat solusi.

Bukan hanya buruh, warga juga kecewa dengan eksportir yang berpusat di Kecamatan Gempol, Sidoarjo itu. Warga mengeluhkan pengelolaan limbah pabrik yang sembarangan dan tidak pernah memberikan program Corporate Social Responsibility (CSR).

"Limbah kayu dan air dibuang seenaknya, sampai mengotori lingkungan warga. PT HGI juga tidak pernah memberikan tali asih kepada warga seperti yang dijanjikan dulu. Makanya saya dukung karyawannya yang demo," ujar seorang warga Desa Campurrejo Bojonegoro, Imam Supardi.

Sebelumnya beberapa perwakilan buruh lalu ditemui pimpinan PT HGI dengan fasilitator dari Disnakertrans Bojonegoro. Lantaran pihak buruh dan perusahan saling ngotot dengan tuntutan dan dalih masing-masing, maka negosiasi tersebut masih menemui jalan buntu. (fat/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini