75 Persen Hutan Lindung Pulau Kangean Rusak

75 Persen Hutan Lindung Pulau Kangean Rusak

- detikNews
Minggu, 07 Sep 2008 13:29 WIB
Sumenep - Penyelamatan hutan di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Madura tidak dapat ditunda lagi. Keterpurukan ekonomi warga dan kekeringan yang melanda berakibat kerusakan hutan lindung.

Kerusakan hutan lindung yang dilakukan warga maupun keterlibatan oknum aparat, mencapai 75 persen dari ratusan hektar hutan lindung yang menghampar di Pulau Kangean.

Di bulan Ramadan pembalakan liar masih terjadi dan menjadi kebiasaan, baik siang dan malam hari. Bunyi mesin pemotong kayu sering terdengar. Asap tebal juga membuktikan adanya pembakaran hutan.

Tokoh masyarakat Kepulauan Kangean, Sumenep, Badrul Aini mengatakan, pembalakan liar terhadap hutan lindung sudah terjadi sejak tahun 1990-an dan berlangsung hingga saat ini.

"Akibatnya, gunung gundul sejauh mata memandang dan sangat gersang. Bahkan, pembakaran juga terus terjadi," ujar Badrul Aini kepada detiksurabaya.com di Sumenep, Jalan Raung, Minggu (7/9/2008).

Pihak Perhutani, polisi hutan dan penegak hukum lainnya, kata dia, tutup mata dengan pengrusakan hutan yang dilakukan orang tak bertanggungjawab itu.

Rusaknya hutan, selain merusak ekosistem hewan hutan seperti Kijang (Rusa), ayam hutan (Bekisar) juga berdampak pada ekonomi warga. Menurut politisi Partai Bulan Bintang (PBB) ini, warga 4 desa, yakni Desa Cukong-Cukong, Desa Deandung, Desa Timur Jangjang dan Desa Torjek Kecamatan Kangayan, semula hidup dengan kekayaan hutan berupa Blinjo, Kenari dan Kukap. Kini mata pencahariannya hilang akibat penebangan hutan tersebut.

Kerusakan hutan terparah berada di Desa Torjek, Sawah Sumur, Kecamatan Arjasa. Desa Batuputih, Tembayangan dan Desa/Kecamatan Kangayan, serta kerusakan pohon Kakau juga terjadi di Desa Sepanjang, Kecamatan Sapeken.

Imbas dari pengrusakan hutan, mata air terbesar di Pulau Kangean yakni Pemandian Jelgung Desa Pabian, Kecamatan Arjasa sudah tidak lagi mengeluarkan air.

"Yang tampak hanya kubangan kecil. Padahal, sebelum pembalakan liar terjadi, sumber ini mampu menghidupi hampir separuh warga Kangean," katanya.

Sumber air yang saat ini juga sangat memprihatinkan, yakni Sumber Olbak di Desa Cukong-Cukong, Kecamatan Kangayan. Semula, air yang keluar menyerupai air terjun hingga ketinggian 2 meter, saat ini nyaris tidak mengeluarkan air lagi.

Irigasi yang semula mampu menghidupi petani 2 sampai 3 kali dalam setahun, kini kering kerontang. Petani bercocok tanam padi kala hujan tiba.

Dia memprediksi, kerusakan hutan yang sudah mencapai 75 persen, banjir dan longsor akan terjadi di Pulau Kangean. "Ini semua dampak dari pengrusakan hutan, sedangkan aparat tutup mata dengan kondisi itu," tegasnya. (fat/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini