Hampir seluruh masyarakat Banyuwangi selalu menyajikan makanan yang satu ini pada saat bulan puasa. Bentuk dan warna yang menggiurkan, serta aromanya yang menggoda selera saat dicampur dengan kuah santan bercampu gula kelapa. Pastinya nikmat sekali untuk disantap.
Rosida (52) salah satu pedagang patula yang sudah turun temurun berjualan makanan ini selalu menyediakan patula untuk masyarakat Banyuwangi. Saat berjualan warga Kelurahan Tukang Kayu Kecamatan Banyuwangi ini dibantu ibunya Aisyah (76).
Setiap hari istri Hasan ini rata-rata menghabiskan antara 5 kg tepung beras untuk membuat Patula ini. Belum lagi kalau ada pesanan dari masyarakat. Tentunya Rosidah yang mendapatkan resep kue ini secara turun temurun harus menambah jumlah kue yang dibuatnya.
Kue patula Rosidah harganya sangat terjangkau. Hanya dengan Rp 500 sudah dapat menikmati satu buah kue patula lengkap dengan kuahnya. "Kalau tanpa kuah kita jual Rp 450 perbuahnya," kata Rosidah.
Setiap pukul 14.00 WIB, bidak tempatnya berjualan di Jalan Kyai Harun Kelurahan Tukang Kayu sudah mulai dibanjiri pembeli. Untuk mendapatkan pantula itu, pelanggan harus rela antre.
Tidak sampai dua jam kue Patula jualan Rosidah sudah habis terjual. Tidak sedikit masyarakat yang harus gigit jari karena tidak mendapat bagian kue patula buatan Rosida. "Sebenarnya kasihan juga kalau melihat orang pulang dengan tangan kosong," tutur perempuan yang sudah puluhan tahun berjualan kue khas Banyuwangi ini.
Sarofah (50), salah seorang pembeli mengaku cocok dengan aroma dan rasa kue patula buatan Rosida. Warga Banjarsari ini mengaku selalu menyediakan patula untuk menu buka puasa. "Suami dan anak saya selalu mengawali buka puas dengan kue ini," akunya.
(bdh/bdh)











































