Harga minah ditingkat pengecer saat ini dipatok seharga Rp 6.500 per liter. Padahal, eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah daerah hanya sebesar Rp 3.622 per liter untuk wilayah kepulauan terjauh, seperti Sapeken dan Masalembu. Tapi, itupun sulit didapatkan.
Akibat menghilangnya minah sejak sepekan terakhir ini, warga harus rela menggunakan kayu bakar yang diambil dari kawasan hutan setempat, meski harus berhadapan dengan petugas.
Menghilangnya minah dan tingginya harga elpiji di kepulaun Kangean karena tersendatnya pendistribusian kepulau itu akibat buruknya cuaca transportasi laut. Itu dibuktikan dengan banyaknya drum yang dibiarkan oleh pemiliknya di Pelabuhan Kalianget, Sumenep.
Salah seorang pedagang minah asal kepulauan Kangean, Sumenep, Asramu (45) mengaku sudah sepekan menunggu jatah minah dan BBM jenis premium untuk dijual dipulau. Namun ada pembatasan pembelian di SPBU yang biasa melayani warga pulau.
"Drum-drum saya ini masih banyak yang kosong. Kalaupun ada yang terisi tapi tetap tidak bisa berangkat ke Kangean karena cuaca buruk," kata Asramu pada detiksurabaya.com di pelabuhan Kalianget, Sumenep, Jumat (5/9/2008).
Menurut dia, saat kelangkaan minah terjadi di kepulauan Kangean, warga banyak yang beralih pada kayu bakar sebagai alternatif. Sebab elpiji sudah tidak bisa diharapkan, selain mahal juga sulit di dapat. (bdh/bdh)










































