Terlebih warga masyarakat sekitar makam, menganggap membantu mengirim bahan bubur tak lebih dari sodaqoh. Mereka meyakini, dengan membantu membuat bubur yang dimulai sejak Wali Songo tersebut, bakal dilimpahkan rezeki menjelang datangnya lebaran.
"Siapapun tidak akan percaya, namun kami meyakini kalau mau berbuat amal akan dibalas oleh Alloh," kata M Lutfi warga Kutorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, saat diemui di kompleks Makam Sunan Bonang, Kamis (4/9/2008).
Bubur Suru, menurut Muhammad Ichwan tokoh masyarakat setempat, berasal dari kebiasaan mendiang Sunan Bonang. Kala itu sang sunan biasa membagi bubur kepada para musyafir dan warga sekitar, menjelang beduk magrib di saat puasa ramadan. Bubur itu sendiri dibuat oleh para santri atas perintah sunan.
Disebut Bubur Suru, karena saat itu belum ada sendok. Bubur yang dituang di takir (wadah dari daun pisang) langsung disendok dengan potongan daun pisang yang ditekuk tengahnya. Tekukan daun tersebut disebut suru. "Makanya sampai sekarang warga menyebutnya Bubur Suru," kata Ny Risna.
Bubur itu sendiri, papar Lutfi (45) warga setempat, dibuat warga secara gotong royong. Bahannya berupa beras, tulang sapi, rempah-rempah dan bumbu masakan gulai. Cara membuatnya, lima kilo gram tulang sapi dimasukkan ke air mendidih. Kemudian dicampur beras delapan kilo gram setelah matang dicampur rempah-rempah, santan dan bumbu gulai.
Setelah matang, bubur dibagi-bagikan kepada warga yang sudah antre sejak sore di sekitar makam. "Tradisi ini dulu dipakai untuk menghormati para musyafir dan warga yang singgah di Masjid Astana (masjid tinggalan Sunan Bonang di kompleks makam) yang menunggu saat sholat magrib," ungkap sejumlah warga setempat.
Hingga kini pun tradisi warisan Sunan Bonang masih dipertahankan warga Tuban. Soal biaya pembelian bahan-bahannya, biasanya disumbang warga keturunan Arab yang berdomisili di sekitar makam. Terkadang juga sudah ada donatur tetap dari kalangan warga keturunan tersebut.
Dan tradisi bagi-bagi Bubur Suru sampai kini masih bertahan. Sekalipun terkadang diyakini lain oleh sementara orang. Wali Songo memang memiliki kharomah. Tradisi bagi-bagi bubur pun diyakini terdapat muatan berkah dari sang sunan. (bdh/bdh)










































