Siapa Atin? Belum jelas benar identitas perempuan berusia 45 tahun itu. Tapi, yang jelas, menurut Kapolres Ngawi AKBP Edi Tambuna, Atin merupakan salah seorang peserta Konvoi Jalur Merah Putih (JMP). Saat kejadian, Atin berada di belakang Sophan.
"Saat kejadian, Atin ini kebetulan berada di belakang korban, tapi hingga kini Atin belum pernah datang ke Ngawi untuk memenuhi panggilan sebagai saksi," kata Kapolres saat dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (4/9/2008).
Atin tidak memenuhi panggilan polisi karena sedang berada di luar negeri. "Alasannya dia ke luar negeri atau ke Belanda gitu," ujar Kapolres.
Kapolres menjelaskan pihaknya sudah merencanakan memeriksa 8 orang saksi. Rinciannya, satu saksi dari warga Ngawi dan 7 saksi dari peserta konvoi JMP. Namun hingga saat ini, pihaknya baru bisa memeriksa 7 saksi, sebab Atin tidak pernah datang memenuhi panggilan Polres Ngawi.
Kapolres masih berharap Atin bisa datang memenuhi panggilan polisi. Sebab, Polres Ngawi akan terus melakukan penyelidikan kasus ini tanpa target waktu.
Isu yang beredar, Atin tahu persis bagaimana Sophan terjatuh dan meninggal dunia. Sebab Atin tepat di belakang Sophan. Bahkan, kabarnya saat kejadian, Atin sangat histeris melihat Sophan mengalami celaka. Dia diyakini menyaksikan Sophan tidak hanya mengalami terjatuh, tapi ada yang dialami Sophan selanjutnya.
Anehnya, setelah kejadian itu, Atin pergi tanpa jejak. Diyakini dia berada di Belanda, karena suaminya adalah warga Belanda. Dia meninggalnya karena kabarnya dia diminta tutup mulut dan mendapat intimidasi. Entah intimidasi dari siapa. (fat/fat)











































