Tradisi membagi-bagi penganan bubur beraroma rempah-rempah dan daging sapi ini, sampai kini masih bertahan di kompleks makam Syeh Maulana Makdum Ibrahim tersebut. Saban ramadan pun, warga berebut berkah dari karomah sang wali.
Tradisi yang satu ini, hanya bisa dijumpai di saat bulan suci Ramadan. Ramadhan pun menjadi bulan penuh berkah bagi warga dan musyafir yang singgah di Tuban. Menjelang buka puasa, warga sekitar kompleks makam akan membagi-bagi bubur suru.
Seperti halnya yang tampak pada hari ketiga Ramadan. Di kompleks makam persis di belakang Masjid Agung Tuban ini, sudah dipadati puluhan warga dari berbagai penjuru wilayah di Tuban. Mereka membawa piring dan beberapa wadah untuk antre bubur.
Diyakini pula, siapapun yang memakan bubur suru dari kompleks Makam Sunan Bonang bakal memperoleh kesehatan jasmani dan rohani. Karena bubur yang dibuat secara turun temurun warga sekitar makam tokoh syiar Islam di nusantara itu, mengandung berkah dari ajaran sodaqoh sang sunan.
"Anak saya yang sakit-sakitan sudah setahun, saya beri bubur suru dari Mbah Bonang langsung sembuh," kata Masduki (37) warga Kelurahan Perbon, Kecamatan Kota, Tuban, saat dijumpai detiksurabaya.com di kompleks Makam Sunan Bonang, Kamis (4/09/2008). Kedatangannya meminta bubur di kompleks makam itu sudah tahun kedua.
Pengalaman spiritual itu ternyata tak hanya dimiliki Masduki. Masih banyak warga lain yang mengaku memiliki pengalaman serupa. Diantaranya, setelah mengkonsumsi bubur batin menjadi tenang disaat menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Namun tak sedikit pula warga yang hanya sekadar membuktikan rasa penasaran terhadap tradisi bagi-bagi bubur suru di makam tokoh Wali Songo itu. Terlebih pembagiannya dilakukan menjelang berbuka puasa.
"Lumayan Mas, bisa menikmati bubur gratis. Kalau mau bisa tiap hari kesini," kata Joko Wahyono (36), tukang becak yang biasa mangkal di kompleks parkir Sunan Bonang. (bdh/bdh)










































