Miris, Siswa SDN di Kudus Ini Belajar di Kelas Nyaris Ambrol

Dian Utoro Aji - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 11:39 WIB
Kudus -

Ruang kelas SDN 2 Klaling Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kondisinya memprihatinkan. Para siswa belajar dalam kondisi dihantui rasa was-was jika plafon ambrol sewaktu-waktu.

Pantauan di lokasi, Senin (17/1) pukul 09.00 WIB, kerusakan plafon terutama di ruang kelas 1. Plafon di kelas tersebut ambrol sebagian, menyisakan lubang menganga tepat di atas para siswa.

Plafon di ruang kelas 1 itu pun disangga dengan dua bambu. Bambu digunakan sebagai penyangga, karena kayu plafon sudah lapuk sehingga rawan ambrol

"Saya was-was kalau ambrol, harapannya segera diperbaiki," kata salah satu siswa, Safa kepada detikcom di lokasi, Senin (17/1/2022).

Diwawancara terpisah, Kepala SDN 2 Klaling, Kusiyah, menyebut kondisi ruang atap kelas 1 tersebut sudah lama rusak. Sejak dirinya bertugas di sekolah tersebut tahun 2018 lalu, kondisi ruang kelas itu sudah rusak.

"Sebagian plafon sudah ada yang ambrol dan kayunya itu sudah lapuk. Saya ke sini ditugaskan tahun 2018 dan kondisinya seperti ini," jelas Kusiyah ditemui di lokasi, pagi ini.

Siswa SDN 2 Klaling, Kudus tetap belajar dengan kondisi atap ruang kelas ambrol, Senin (17/1/2022).Kondisi atap plafon ruang kelas ambrol, Senin (17/1/2022). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)

Kusiyah mengaku terpaksa siswa belajar di ruang kelas yang kondisinya rusak parah. Dia beralasan karena tidak ada ruang lagi.

Pihaknya sempat memindah kegiatan belajar mengajar ke musala. Namun hal ini dinilai kurang efektif sehingga para siswa kembali belajar di ruang kelas.

"Sebetulnya was-was juga, karena ruang kelas yang pas, ya terpaksa di sini. Selama pandemi pas belum boleh tatap muka kita menempati di masjid, ini kembali karena di masjid kurang efektif," jelas dia.

Menurutnya kondisi ruang kelas 1 sampai 6 rata-rata bagian atapnya rusak. Namun kerusakan paling parah terjadi di ruang kelas 1.

Kusiyah menyebut, terakhir pembangunan sekolah dilakukan 2009 silam. Itupun perbaikan ruang kantor guru.

"Ruang kelas ini kan memanjang dari kelas 1 sampai kelas 6, setiap ruang hampir seperti ini, cuman ruang ini yang paling parah," ungkap Kusiyah.

Pihak sekolah, lanjutnya, telah mengusulkan perbaikan kepada dinas pendidikan. Namun hingga kini belum juga ada perbaikan. Dia berharap agar ada perhatian dari dinas terkait.

"Tahun 2019 sudah mengajukan perbaikan ruang kelas, kemudian 2020 sudah mengajukan lewat dapodik (data pokok pendidikan), saya sudah sampaikan ke dinas dan sudah diverifikasi, namun sampai ini belum (diperbaiki)," harap Kusiyah.

(aku/sip)