Pedagang Pasar Tanjung Klaten Mogok Gegara Retribusi, Pembeli Kecele

Achmad Syauqi - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 09:54 WIB
Pasar Tanjung Juwiring, Klaten, sepi karena pedagang tidak berjualan, Senin (17/1/2022).
Pasar Tanjung Juwiring, Klaten, sepi karena pedagang tidak berjualan, Senin (17/1/2022). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Pedagang Pasar Tanjung, Kecamatan Juwiring, Klaten, Jawa Tengah mogok jualan memprotes naiknya kelas pasar dan retribusi. Aksi mogok pedagang ini membuat kecele masyarakat yang hendak berbelanja.

Pantauan detikcom di lokasi pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, puluhan kios di depan dan samping pasar tutup. Hanya ada satu dua warung yang masih berjualan.

Di dalam pasar, lapak pedagang tampak sepi dan tidak ada satupun pedagang berjualan. Warga yang hendak berbelanja terlihat kebingungan sebelum akhirnya pulang.

"Saya mau belanja sayur kok tutup. Kita kecele (kaget dan bingung), mau belanja di mana jam segini," ungkap seorang warga, Ratih ditemui detikcom di lokasi, Senin (17/1/2022).

Ratih menjelaskan, dirinya tidak mengetahui jika pasar tutup karena pedagangnya mogok berjualan. Selaku warga, dirinya kecewa karena tidak ada pengumuman.

"Ya kecewa, sudah sampai sini dan tidak ada pemberitahuan. Ada apa dengan pedagang, saya juga tidak tahu," kata dia.

Pedagang yang tidak berjualan, lanjutnya, merepotkan warga karena tidak ada tempat untuk berbelanja. Menurut Ratih, dirinya terkendala jarak yang jauh jika harus berbelanja ke pasar yang lain.

"Ya repot karena mau belanja jadi jauh. Ada Pasar Juwiring di desa Bulurejo dan Pasar Daleman tapi di Kecamatan Wonosari, jauh," kata Ratih.

Diwawancara terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Tanjung, Danang mengatakan pedagang tutup karena rencananya hari ini pedagang akan protes ke Pemkab Klaten. Namun, lanjutnya, niatan ini tidak jadi dilakukan karena sudah diwakili oleh Lurah Pasar.

"Rencana hari ini kita mau ke Klaten minta penurunan retribusi dan kelas pasar dari kelas 1 ke kelas 2. Tapi yang maju ke Dinas Bu lurah pasar dan UPT, kita terlanjur umumkan tutup ya tutup sekalian," ungkap Danang kepada detikcom.

Danang menyebut, pedagang keberatan dengan kenaikan kelas pasar dari kelas 2 jadi kelas 1. Akibatnya retribusi ikut naik, sehingga pedagang keberatan.

"Keberatan karena kenaikan retribusi akibat kenaikan kelas jadi kelas 1. Apalagi Perda yang baru (mengatur) kita harus bayar bulanan. Jualan atau tidak, tetap bayar," imbuh Danang.

Sementara itu, salah seorang pedagang buah, Sarono mengatakan aturan baru memberatkan pedagang. Meskipun naiknya tidak seberapa, lanjutnya, tapi pedagang keberatan jika diharuskan membayar bulanan.

"Saya punya dua lapak, dulu retribusi Rp 2.500 per hari per lapak. Dulu bayarnya harian sekarang per bulan diminta Rp 137.500 per bulan. Tapi kita tidak jualan kan juga bayar kalau bulanan," kata Sarono kepada detikcom.

Dimintai konfirmasi, Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Pemkab Klaten, Supriyanto menjelaskan keputusan Pemkab menaikkan kelas pasar dan retribusi tetap berjalan karena sudah ada Perda 2/ 2021. Dirinya menyebut, pemkab sudah melakukan sosialisasi terkait perubahan ini.

"Pemkab sudah melakukan sosialisasi ke pedagang melalui lurah pasar. Sempat ada gejolak di beberapa pasar tetapi setelah dijelaskan akhirnya tidak masalah," jelas Supriyanto kepada detikcom.

Kebijakan itu, imbuh Supriyanto, juga telah dikoordinasikan dengan DPRD. Menurutnya, DPRD Klaten juga setuju aturan itu diberlakukan.

"Kita kemarin diundang komisi 2, setelah dijelaskan komisi 2 juga setuju. Tetap kita berlakukan dengan melihat perkembangan di lapangan," pungkas Supriyanto.

Simak juga 'Penyemprotan Eco Enzym 50.000 Sprayer di Klaten Masuk MURI':

[Gambas:Video 20detik]



(aku/mbr)