Di Dukuh Janganmati Gunungkidul Tak Ada Warga Kena Corona

Pradito Rida Pertana - detikNews
Minggu, 16 Jan 2022 21:08 WIB
Suasana di Dukuh Janganmati, Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul.
Penunjuk arah menuju Dukuh Janganmati Gunungkidul. Foto: Pradito Rida Pertana
Gunungkidul -

Ada yang unik di Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Salah satu dukuh di daerah itu memiliki nama yang aneh untuk diucapkan, Dukuh Janganmati.

Dukuh ini berada di pelosok, sekitar 73 kilometer dari jantung Kota Yogyakarta. Siaran televisi maupun sinyal operator seluler susah didapatkan di dukuh itu.

Uniknya lagi, tidak ada warga di Dukuh Janganmati itu yang tercatat terpapar COVID-19 selama pandemi ini.

"Selama pandemi tidak ada kasus COVID-19, Alhamdulilah di sini (Janganmati) nol kasus, padahal pernah ada juga yang dari luar (daerah) pulang ke sini," kata Kepala Dukuh Janganmati Irna Widayanti saat ditemui di rumahnya, Minggu (16/1/2022).

Karena tidak ada warga yang terpapar, tentu saja tidak ada warga yang tercatat meninggal lantaran wabah COVID-19 di dukuh itu.

Jumlah warga di Dukuh Janganmati memang tidak terlampau banyak. Janganmati hanya dihuni oleh 33 Kepala Keluarga (KK) dan hanya terdiri dari 2 rukun tetangga (RT).

"Untuk saat ini di Pedukuhan Janganmati ada 33 KK dengan jumlah mencapai 142 jiwa. Sedangkan untuk RT di sini hanya ada 2 RT saja yakni RT 1 dan RT 2," ucapnya.

Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani. Sedangkan yang berprofesi sebagai pegawai atau karyawan swasta terbilang sangat sedikit.

Tentu saja, nihilnya kasus COVID-19 selama pandemi di dukuh itu tidak terkait dengan nama unik dukuh tersebut.

Terkait nama Janganmati, Irna mengatakan bahwa nama dukuh itu sudah digunakan sejak lama. Sebagai warga asli, dia bahkan tidak tahu secara pasti alasan nama unik itu digunakan sebagai nama dukuh.

"Kalau dari sesepuh Pedukuhan, kenapa dinamakan Pedukuhan Janganmati karena zaman dahulu, puluhan atau mungkin ratusan tahun yang lalu di ladang sebelah timur Pedukuhan ini ada (hewan) menjangan yang mati," ucapnya.

"Kemudian para orangtua menamakan Pedukuhan ini Pedukuhan Janganmati. Jadi jangannya itu (singkatan) Menjangan," katanya menambahkan.

(ahr/ahr)