Yogya Diserbu Wisatawan Saat Nataru, Berdampak Kenaikan Kasus Corona?

Heri Susanto - detikNews
Kamis, 06 Jan 2022 17:44 WIB
Tugu Pal Putih Yogyakarta kini ditutupi pagar. Hal ini untuk mencegah kerumunan orang selama malam pergantian tahun baru.
Tugu Pal Putih Yogyakarta (Foto: Agus Septiawan)
Yogyakarta -

Sejumlah objek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipadati wisatawan saat libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) kemarin. Apakah ada kenaikan kasus Corona di DIY dampak dari membeludaknya kunjungan wisatawan itu?

"Faktualnya bahwa dari peristiwa Nataru itu ada kenaikan. (Kenaikan kasus positif) sampai sekarang hanya ada dua," kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat diwawancarai wartawan di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Kemantren Danurejan, Kamis (6/1/2022).

Sultan menjelaskan, jika melihat waktu libur Nataru dengan masa inkubasi virus Corona, jika terjadi penularan maka saat-saat ini terjadi lonjakan kasus positif. Tapi, lanjutnya, sampai saat ini kasus positif di DIY malah cenderung turun.

"(Sebelumnya kasus) Yang aktif 96, (Sekarang) kira-kira 77 (kasus) aktif, berarti kan turun," kata Sultan.

Belajar dari pengalaman Nataru, Sultan mengimbau kepada masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam membuka usaha maupun tempat wisata.

"Itu yang penting kita jaga. Jangan ada klaster seperti kemarin. Jangan kemrungsung, jangan ora sabar. Protokol pokoknya siap, mau buka silakan," katanya.

Berdasarkan data dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, khusus kawasan Malioboro terjadi kenaikan pengunjung selama libur Nataru kemarin.

"Selama pandemi baru kali ini kunjungan Malioboro mencapai 10 ribu pengunjung dalam satu waktu. Saat normal kunjungan ke Malioboro bisa mencapai 15 ribu," kata Kepala UPT Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Ekwanto.

Ia menjelaskan, pada libur Natal Minggu (25/12), kunjungan masih di bawah 10 ribu.

"Natal baru sekitar 7.500 sampai 8 ribu. Kalau Tahun Baru kemarin sudah hampir seperti normal yang biasanya 15 ribu saat akhir pekan," kata Ekwanto.

(rih/sip)