Penari Kenamaan Yogya Martinus Miroto Tutup Usia

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 10:45 WIB
Ilustrasi karangan bunga
Ilustrasi karangan bunga. Foto: Tim Infografis
Yogyakarta -

Mendung kembali menerpa dunia seni pertunjukan Yogyakarta. Seniman tari kontemporer, Martinus Miroto, berpulang pagi ini.

Kabar duka itu disampaikan oleh sesama seniman tari Yogyakarta, Bambang Paningron. Dari kabar yang dia terima, Miroto meninggal karena penyakit infeksi saluran pernapasan.

"Benar. Sudah sejak tanggal 22 Desember masuk ke RS Panti Rapih karena infeksi saluran pernapasan," kata Bambang saat dihubungi wartawan, Jumat (31/12/2021).

Bambang mengatakan Miroto sempat mengalami demam sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Keadaannya sempat membaik tapi beberapa hari yang lalu Miroto masuk ICU.

"Tanggal 15 atau 16 Desember demam, mungkin dikiranya demam biasa. Sebelumnya sudah membaik tapi beberapa hari yang lalu masuk ICU," ucapnya.

Bagi Bambang, Miroto merupakan pribadi yang baik, banyak ngemong penari muda, koreografer muda, masih aktif di Bedog Art Festival, dan kegiatan lainnya. Menurut Bambang, almarhum juga punya banyak kontribusi dalam dunia tari di Indonesia.

"Pasti kehilangan ya, apalagi masih sangat muda dan masih sangat aktif. Pasti masih banyak yang kehilangan," ungkapnya.

"Dia salah satu koreografer Indonesia yang banyak memberikan warna tari di Indonesia dan dengan festivalnya memberikan ruang yang luar biasa bagi banyak koreografer," tutupnya.

Pendiri Studio Tari Banjarmili itu akan dimakamkan sore nanti pukul 15.30 WIB di Pemakaman Sasonoloyo Kradenan.

Miroto lahir di Yogyakarta, 23 Februari 1959. Dia adalah koreografer Indonesia yang pertama kali menciptakan dan menyajikan tari tunggal dengan 5 topeng di berbagai festival internasional di 5 benua. Miroto bukan hanya seorang penari, tetapi juga koreografer, PNS, dan pengajar di Institut Seni Indonesia yang mengajar olah tubuh dan koreografi.

Martinus Miroto tertarik pada dunia tari sejak umur 9 tahun. Keinginannya menjadi penari membawanya ke Krida Beksa Wirama. Di sini dia belajar tari klasik. Untuk memperdalam ilmunya, dia bergabung dengan Konservatori Tari Indonesia. Pria ini belajar tari dari tokoh kontemporer, Bagong Kussudiardjo. Setelah lulus SMP, putra dari penggendér (pemain gender) di pentas wayang kulit, Setio Martono dan Marwiyah ini melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) tahun 1976-1980, kemudian Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1980-1981 dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1981-1986.

Suami dari Yuli Setyo Sari ini juga pernah mengenyam pendidikan luar negeri yaitu di Folkswang Dance Academy, Jerman (1987), Wuppertal Dance Theater, Jerman, American Dance Festival North Carolina, Amerika Serikat dan Department of Dance University, ing California Los Angeles, Amerika Serikat. Gelar master of fine arts di bidang seni tari diperolehnya dari University of California Los Angeles (UCLA) tahun 1995.

Pengalamannya sebagai penari dan penata tari, Miroto pernah tampil dan memberi workshop di AS, Belanda, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Australia, Jepang, dan Zimbabwe. Kecuali penghargaan dari Asian Cultural Council dan Ford Foundation, Miroto pernah menerima penghargaan tampil di festival tari internasional antara lain: American Dance Festival, Arts Summit Indonesia, Indonesian Dance Festival, menerima gelar penari putra-alus Yogyakarta terbaik (1996). Pentas kolaborasi pernah ia lakukan antara lain dengan Yin-Mei (AS), Nandhini Ninha (India), Garin Nugroho (Indonesia), dan Ong Keng Sen (Singapura).

(mbr/sip)