Dokter Semarang Pelaku Seks Menyimpang Dituntut 6 Bulan Bui

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 22 Des 2021 18:42 WIB
Ilustrasi Fokus Teror Sperma di Tasikmalaya (Fauzan Kamil/detikcom)
Foto: Ilustrasi (Fauzan Kamil/detikcom)
Semarang -

Oknum dokter yang melakukan penyimpangan seksual dengan mencampur sperma ke makanan istri temannya sudah masuk ke persidangan. Dokter berinisial DP (31) itu dituntut 6 bulan penjara.

Sidang dengan agenda tuntutan itu digelar tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Dalam sidang tersebut DP hadir mengenakan kemeja putih.

"Tuntutan 6 bulan penjara. Kami pelaksana, yang berwenang menjelaskan pimpinan kami," kata Jaksa Penuntut Umum dari Kejati Jateng, Novie Amelia usai sidang, Rabu (22/12/2021).

Usai sidang, terdakwa dan kuasa hukumnya langsung meninggalkan lokasi dan enggan memberikan keterangan.

Sedangkan, pendamping korban dari Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC KJHAM), Nia Lishayati menyampaikan kekecewaannya dengan tuntutan yang dinilai rendah itu, karena korban mengalami trauma yang berdampak pada kesehatan.

"Kecewa banget ya, masa tuntutannya hanya 6 bulan penjara. Itu enggak sebanding sama trauma dan penderitaan korban. Korban sampai saat ini bahkan masih harus berkonsultasi ke psikologi dan psikiater karena ulah pelaku," kata Nia.

Dengan tuntutan ini ia berharap majelis hakim PN Semarang bisa adil dan mengambil keputusan berdasarkan Pasal 281 KUHP ancamannya maksimal 2 tahun 8 bulan. Ia juga berharap pihak kampus tempat DP menuntut ilmu juga segera ambil sikap.

"Berharap sekali kepada Pengadilan Negeri Semarang bisa memutus hukuman maksimal terhadap kasus ini yaitu 2 tahun 8 bulan. Karena tuntutannya bahkan tidak ada seperempatnya," ujarnya.

Kasus ini menjadi sorotan luas pada September 2021 lalu ketika seorang dokter berinisial DP ditetapkan sebagai tersangka terkait penyimpangan seks yang dilakukannya. DP melakukan onani dan memasukkan spermanya ke makanan korbannya yang tidak lain adalah istri dari rekan di kampus.

Tiga orang itu, DP, temannya, dan korban tinggal bersama di sebuah kontrakan di Kota Semarang. Penyimpangan itu diketahui korban bulan Oktober 2020 lalu ketika korban memasang iPad-nya untuk merekam kondisi ruang makan karena beberapa kali tudung saji dan makanan berubah posisi. Setelah mengetahui aksi tersangka, korban mengalami trauma hingga gangguan makan.

Lihat juga Video: Hyeri Alami Pelecehan Seksual Online, Agensi Tempuh Jalur Hukum

[Gambas:Video 20detik]



(mbr/rih)